Kredit Macet Perbankan Naik Jadi 2,1%

Kredit Macet Perbankan Naik Jadi 2,1%

- detikFinance
Kamis, 16 Okt 2014 17:12 WIB
Kredit Macet Perbankan Naik Jadi 2,1%
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim industri jasa keuangan yang terdiri dari sektor perbankan dan permodalan sampai Oktober ini dalam kondisi normal. Namun perlu diwaspadai rasio kredit bermasalah.

Pasalnya, rasio non performing loan (NPL) alias kredit macet naik 0,37% sejak awal tahun ini. Posisi menjadi 2,19% dari posisi akhir tahun 2013 sebesar 1,82%.

"Kredit naik 5,91% secara year to date, namun rasio kredit bermasalah pun turut mengalami peningkatan 0,37% secara year to date menjadi 2,19% dari posisi akhir tahun 2013 1,82%, itu jadi catatan," kata Deputi Komisioner Manajemen Strategis OJK Lucky FA Hadibrata dalam paparan kinerja industri perbankan di kantor OJK, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kinerja rentabilitas dan efisiensi perbankan tergolong baik hal tersebut tercermin dari permodalan yang masih tinggi, CAR pada level 19,52% dan didominasi modal inti," dalam paparan tersebut.

Kondisi serupa juga ditunjukkan oleh industri keuangan non bank yang juga terpantau normal. Ia mengatakan, pandangan tersebut tercermin dari posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang secara point to point stabil.

"Meskipun pada September volatilitas tinggi," sebut dia.

Kondisi positif juga terlihat pada kinerja reksa dana yang tercermin dari nilai aktifa bersih (NAB) reksadana yang masih menguat. Penguatan kinerja reksa dana ini, dilanjutkan dia, didukung oleh net subscription yang cukup besar.

"NAB reksadana pada bulan September meningkat Rp 3,39 triliun atau 1,58 persen sehingga secara total menjadi Rp 217,73 triliun. Net subscription terbesar dialami oleh reksadana pasar uang Rp 1,81 triliun, sedangkan reksa dana saham membukukan net redemption Rp 175 miliar, namun pada akhir minggu tercatat net subscription cukup tinggi," tutur dia.

Secara keseluruhan, indikator-indikator industri keuangan tanah air ini tergolong menggembirakan di tengah kondisi ekonomi global sedang tidak baik.

Ia mengatakan, meskipun global termasuk tanah air tengah dirundung kekhawatiran oleh rencana normalisasi perekonomian AS yang dikhawatirkan lebih cepat dari perkiraan.

Kekhawatiran lain adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi China di level 7,4% begitu pula kondisi ekonomi Jepang yang juga mengalami perlambatan.

"Pertumbuhan ekonomi Jepang melambat dan belum pulih dari kebijakan penerapan kenaikan pajakn penjual," tandas dia.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads