Ekonomi Syariah Bisa Jadi Alat Pemberantas Kemiskinan

Ekonomi Syariah Bisa Jadi Alat Pemberantas Kemiskinan

- detikFinance
Jumat, 07 Nov 2014 13:50 WIB
Ekonomi Syariah Bisa Jadi Alat Pemberantas Kemiskinan
Surabaya - Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim memungkinkan ekonomi dan keuangan syariah bertumbuh lebih besar.

"Langkah yang telah kita coba lakukan adalah bagaimana ekonomi dan keuangan syariah dijadikan alat untuk mengurangi kemiskinan dan keterbelakangan," ujar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah saat acara seminar Peranan Islamic Financial Inclusion Dalam Mendorong Pembangunan Ekonomi dan Upaya Pengentasan Kemiskinan, di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/11/2014).

Halim mengatakan, ekonomi syariah punya potensi besar untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu yang bisa dikembangkan adalah pengelolaan zakat dan wakaf di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, zakat yang berhasil dikumpulkan setiap tahun baru mencapai Rp 3,7 trilun, sementara potensinya mencapai Rp 217 triliun.

"Ini akan memiliki potensi besar misal pengelolaan zakat dan wakaf bisa didayagunakan secara lebih baik karena kita mengusulkan standar internasional untuk ini. Kita sebagai salah satu negara terkemuka dalam dunia Islam kita harus menunjukkan kualitas negara kita yang siap mendorong ekonomi dan keuangan syariah," terang dia.

Menurut Halim, lewat zakat dan wakaf, pengumpulan dana akan lebih mudah dan murah karena bersifat kewajiban dan sukarela.

"Ini untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan. Ini bisa kalau dikumpulkan di lembaga syariah. Kalau lewat perbankan kan bayar kalau zakat kan memang kewajiban muslim bayar," ujar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengawasan Bank Syariah OJK Ahmad Soekro Tratmono menyebutkan, ekonomi dan keuangan syariah mulai menunjukkan geliatnya meskipun masih butuh pengembangan.

Dia menyebutkan, total aset perbankan syariah hingga Juli 2014 mencapai Rp 252,40 triliun dengan market share 4,93%.

Sedangkan asuransi syariah per Mei 2014 mencapai Rp 19,26 triliun dengan market share 4,25% di tahun 2013. Pembiayaan syariah per Juni 2014 mencapai Rp 23,49 triliun dengan market share 5,51%.

Sementara saham syariah hingga Juli 2014 mencapai Rp 2.955,79 triliun dengan market share 58,63%. Sukuk korporasi per Juli 2014 mencapai Rp 6,96 triliun dengan market share 3,17%.

Reksa dana syariah per Juli 2014 mencapai Rp 9,51 triliun dengan market share 4,43%. Sukuk negara per Juli 2014 mencapai Rp 179,10 triliun dengan market share 9,83%.

"Selain lembaga-lembaga keuangan, Indonesia juga memiliki lebih dari 5.000 Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dan lebih dari 500 lembaga zakat swasta. Ini potensi yang cukup tinggi," pungkasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads