Krisis yang akrab disebut krisis moneter (krismon) ini tidak hanya dialami oleh Indonesia. Penyebabnya justru berasal dari negeri tetangga yaitu Thailand.
Krisis bermula dari pelemahan tajam mata uang baht Thailand. Ini seiring keputusan pemerintah Thailand melepas mata uang baht sesuai mekanisme pasar. Krisis pun menyebar sampai ke Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Waktu itu, pekerjaan saya sangat melelahkan. Lebih dari sekarang. Kami mencoba menyelesaikan masalah, memperbaiki ekonomi. Tidak banyak perhatian kepada masalah sosial, tidak fokus pada tata kelola,” katanya dalam acara ASEAN Sustainable Development Symposium 2014 di Hotel Le Meridien, Bangkok, Jumat (14/11/2014).
Menurut Sommai, krisis saat itu adalah pelajaran bahwa ada akibatnya jika ekonomi tidak dikelola dengan baik. Pertumbuhan ekonomi, meski tinggi, tidak berkelanjutan (sustain).
“Ini contoh bagaimana pertumbuhan tidak sustain. Apa yg terjadi, terjadilah. Apa yang terjadi itu di luar keinginan kita semua,” katanya.
Kini, tambah Sommai, perekonomian Thailand perlahan pulih. Utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang sempat di kisaran 57%, turun secara perlahan.
“Utang pemerintah sekarang 46,6% PDB. Kecil dibandingkan negara-negara lain,” katanya.
Saat ini, demikian Sommai, potensi menuju krisis besar seperti Tom Yum Goong sangat kecil. Bahkan dia melihat krisis 1997-1998 sudah seperti tidak nyata.
“Saya melihat situasi 1997 itu seperti ilusi. Sekarang situasinya tidak menakutkan, melihat ekonomi terus tumbuh. Ekonomi kita sustain dan kompetitif,” tegasnya.
(hds/ang)











































