Menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dipandang sebagai modal utama perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia. Dengan modal itu, Bank Indonesia (BI) bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah dunia.
Demikian disampaik Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam sambutannya pada acara Bankers Dinner di JCC, Jakarta, Kamis (20/11/2014).
Ia mengatakan, hal tersebut bukan hal yang mustahil dicapai lantaran masih banyak potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia yang belum benar-benar digali dan dimanfaatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencapai cita-cita tersebut, diakui dia, BI telah menyiapkan serangkaian langkah strategis. Salah satunya adalah membuat instrumen-instrumen keuangan yang dimiliki sistem keuangan konvensional dalam bentuk syariah.
"Kami akan membangun opsi (pilihan) produk syariah yang kompetitif untuk setiap keuangan konvensional. Kemduian membuat pasar obligasi SUKUK (surat utang syariah) yang lebih dalam dan cair, regulasi yang kondusif di bidang syariah tentunya dan tak lupa dukungan sumber daya manusia yang berkualifikasi tinggi," papar dia.
Dengan langkah itu, diharapkan pangsa pasar keuangan syariah di dalam negeri juga bisa ikut meningkat dari posisi saat ini yang berada pada kisaran 5%.
"Dalam satu dekade ke depan pangsa aset perbankan syariah ditargetkan mencapai 20% dari total aset perbankan nasional," pungkas dia.
(dna/hen)











































