Investasi Asing di SUN Tahun 2005 Bakal Meningkat
Rabu, 19 Jan 2005 17:02 WIB
Jakarta - Investor asing diperkirakan akan terus meningkatkan investasinya di obligasi negara (SUN/Surat Utang Negara) pada tahun 2005 ini. Membaiknya peringkat utang Indonesia menjadi salah satu daya tarik investor asing. Arus masuk investor asing diperkirakan sudah mulai terjadi sejak awal tahun 2005. Dimana mereka mulai memburu obligasi negara yang dijual di pasar. Rata-rata investor asing mengeluarkan dana minimal Rp 100 miliar untuk membeli SUN lebih besar dibandingkan dana pensiun Indonesia yang rata-rata Rp 5-Rp 10 miliar. "Arus masuk investor asing untuk berinvestasi pada obligasi negara sudah mulai terlihat sejak awal tahun 2005. Ini terutama didorong oleh naiknya rating utang Indonesia dari B menjadi BB," kata Antonio Yongnata, vice President Citigroup Assets Management, Rabu,(19/1/2005). Menurut Antonio, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pasar obligasi tahun 2005 ini pertama, inflasi, kedua harga minyak dunia dan ketiga pertumbuhan GDP. Sementara pergerakan suku bunga meskipun akan mengalami kenaikan, pasar telah mengasintisapasi bahwa kenaikannya tidak akan terlalu tinggi. Masuknya dana asing tersebut diprediksi akan memberikan pengaruh terhadap penguatan rupiah terhadap dolar AS. Pasalnya, dari seluruh mata uang regional saat ini, hanya rupiah yang kenaikannya belum banyak. "Jadi ada ruang yang cukup besar untuk penguatan rupiah dan dampaknya akan sangat besar terhadap perdagangan obligasi di dalam negeri," katanya. Antusiasme investor asing terhadap obligasi negara RI juga menurut Antonio, karena mereka melihat rating utang Indonesia sangat berpotensi menjadi BBB (triple B) dalam waktu dekat. Selain itu juga jatuhnya peringkat utang Filipina membuat adanya perpindahan dana (switching) dari negara tersebut ke obligasi pemerintah Indonesia. Apalagi pemerintah juga tidak mengambil tawaran negara-negara kreditur untuk melakukan moratorium utang. Seperti diketahui pemerintah hanya akan melakukan penundaan pembayaran utang selama tiga bulan kedepan. "Sekali kita melakukan moratorium ada cacat dimata investor dan mereka akan memilih sell untuk investasinya di Indonesia jika moratorium dilakukan," kata Antonio. Menurut dia, untuk jangka pendek tidak dilakukannya moratorium akan memberikan sentimen negatif karena investor jangka pendek lebih banyak dilakukan trader. Namun untuk jangka panjang, investor menilai hal tersebut sangat positif. Untuk obligasi korporasi menurut Antonio, hingga kini investor asing belum mau menginvestasikan dananya kesana. Kecuali obligasi korporasi dalam mata uang dolar yang dicatatkan di bursa luar negeri. "Investor asing jarang masuk ke obligasi korporasi dalam mata uang lokal, karena perdaganganya tidak likuid akibat referensi harga yang dibuat terlalu rendah," ujar Antonio. Beberapa obligasi korporasi dalam mata uang dolar saat ini menurut Antonio terus mengalami kenaikan, seperti obligasi PT Medco Energi Internasional Tbk yang naik dari 101 menjadi 104 dan obligasi PT Indosat Tbk yang naik dari 103 menjadi 107. Dia memperkirakan pada tahun ini jumlah perusahaan yang menerbitkan obligasi lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, perusahaan akan lebih memilih untuk melakukan pinjaman ke bank karena bunganya lebih rendah.
(qom/)











































