BEI Terbitkan Obligasi Rp 500 M

Status Jadi Export Credit Agency

BEI Terbitkan Obligasi Rp 500 M

- detikFinance
Selasa, 25 Jan 2005 13:17 WIB
Jakarta - Bank Ekspor Indonesia (BEI) akan kembali menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar sekitar Mei atau Juni 2005. Obligasi itu digunakan untuk refinancing utang yang jatuh tempo dan modal kerja. "Rencana penerbitan obligasi masih dalam proses. Nilainya sekitar Rp 500 miliar. Kebutuhannya karena ada utang-utang MTN yang jatuh tempo sebesar Rp 300 miliar pada Juli 2005 ini. Sisanya untuk modal kerja," kata Direktur BEI Evi Firmansyah di sela BUMN Summit di Bidakara, Jakarta, Selasa (25/1/2005)Menurut dia, saat ini total utang BEI sekitar Rp 700-800 miliar dengan rincian utang obligasi yang diterbitkan pada tahun 2003 dan jatuh tempo tahun 2008 serta utang MTN (Medium Term Notes) sebesar Rp 300 miliar. Perseroan untuk menerbitkan obligasi itu menggunakan laporan keuangan per Desember 2004. Sampai akhir tahun 2004 total kredit yang disalurkan mencapai Rp 6 triliun, sedangkan tahun 2005 diperkirakan naik 10-15 persen. Kredit yang disalurkan itu kebanyakan untuk resources base dan agrobisnis. Perubahan StatusEvi juga menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham dalam rangka perubahan status dari perbankan menjadi export credit agency (ECA). Menurut dia, dari pembicaraan dengan deputi Meneg BUMN Bidang Perbankan Suad Husnan, pemerintah akan mendorong upaya perubahan status BEI itu. Diharapkan, dalam jangka waktu 3 tahun ke depan, BEI sudah bisa menjadi ECA. Menurut Evi, perubahan status ini sesuai dengan visi adn misi saat BEI pertama kali didirikan. Saat ini BEI sering kali bersaing dengan perbankan untuk menyalurkan kredit ekspor. Padahal seharusnya BEI bukan kompetitor perbankan. "Dengan menjadi ECA, kita bisa mendorong ekspor sehingga devisa yang masuk lebih banyak. Kita juga tidak dianggap lagi sebagai kompetitor dari bank lain karena lebih fokus," kata Evi.Dijelaskan, nantinya BEI akan menjadi satu-satunya ECA di Indonesia seperti di beberapa negara lain yagn sudah ada yakni Thailand, Malaysia dan Korsel. "Kalau menilai JEXIM, itu sepertinya tidak mungkin karena terlalu besar. Kita menitikberatkan pada kredit resources base saja," demikian Evi Firmansyah. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads