BI Rate di 7,75% dinilai masih relevan dengan target inflasi 4 plus minus 1% pada 2015.
Demikian dikemukakan Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (15/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pertimbangan faktor-faktor tersebut, lanjut Tirta, RDG BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di 7,75%. BI Rate pada besaran tersebut sudah bertahan sejak pertengahan November 2014.
Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sudah diperkirakan para pelaku pasar. Reza Priyambada, Kepala Riset Woori Korindo Securities, mengatakan ada beberapa hal yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
Pertama, selama ini BI Rate tidak cukup ampuh menahan pelemahan laju rupiah. Spekulasi akan membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS) telah membuat dolar AS diburu oleh para pelaku pasar, termasuk para spekulan.
"Dengan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS, maka harganya pun meningkat. Di sisi lain, kecenderungan harga minyak yang menunjukkan penurunan juga telah membuat pelaku pasar beralih ke mata uang safe haven, salah satunya dolar AS," kata Reza dalam risetnya.
Kedua, lanjut Reza, selama ini laju inflasi masih cenderung tinggi yang disebabkan kurangnya pasokan, terutama dari sisi bahan makanan dan barang-barang konsumsi pokok.
"Permasalahan utama inflasi pada bahan makanan dan barang-barang konsumsi pokok ialah pada ketersediaannya, sehingga seharusnya diatasi dari sisi menambah pasokannya. Bukan menambah suku bunga acuan," sebut Reza.
Ketiga, kenaikan BI Rate telah membuat perbankan harus melakukan penyesuaian suku bunganya. Kenaikan suku bunga perbankan telah membuat pertumbuhan kredit melambat.
"Dengan melambatnya pertumbuhan kredit, konsumsi masyarakat ikut berkurang dan berpengaruh pada penurunan PDB (Produk Domestik Bruto). Oleh karena itu, semoga BI tidak terlalu reaktif dalam memutuskan dan mau berbaik hati untuk dapat mempertahankan level BI Rate," tulis Reza.
(hds/hen)











































