Bank Lippo Targetkan Pertumbuhan Kredit Naik 35-50%
Jumat, 28 Jan 2005 01:26 WIB
Jakarta - PT Bank Lippo Tbk menargetkan pertumbuhan kredit di tahun 2005 naik sebesar 35 sampai 50 persen dibandingkan tahun 2004 atau total kredit baru sebesar Rp 2-3 triliun. Sedangkan hingga akhir 2004 total kredit yang dikucurkan sebesar Rp 5,615 triliun."Kredit tersebut masih difokuskan pada kredit retail, small medium enterprises, dan kredit konsumer dan bisnis sehingga pada akhir 2005 kita harapkan total kredit mencapai Rp 10 trilun," kata Dirut Bank Lippo Jos Luhukay.Jos, dalam acara penyampaian prospek perbankan dan strategi Bank Lippo di 2005 di Hotel Nikko, Jl. MH Thamrin, Jakarta, Kamis (27/1/2005), menyatakan Bank Lippo tetap akan menjadi bank pembayaran sehingga fokus kredit tidak untuk korporasi dalam jumlah yang besar."Makanya, kita tidak ikut program kredit pembiayaan untuk infrastruktur yang dicanangkan pemerintah. Itu bukan porsi kita," katanya.Bank Lippo pada tahun 2005 menargetkan penyelesaian agunan yang diambilalih (AYDA) yang saat ini masih sebesar Rp 2,3 triliun setelah adanya penjualan di 2004 sebesar Rp 300 miliar. Penjualan AYDA tidak bisa maksimal karena Bank Lippo menghadapi masalah peraturan securitisasi bank yang belum jelas."Jumlah AYDA ini cukup besar, kalau dijual di dalam negeri saja tidak mungkin terserap. Makanya kita akan segera menunjuk penasihat keuangan," kata Jos. Diharapkan penasihat keuangan yang terpilih bisa diumumkan pada pertengahan Feb dan dilaporkan dalam RUPS pada 4 Maret 2005. Jos juga menjelaskan saat ini transaksi perbankan Bank Lippo mencapai Rp 450 triliun. Dengan tingginya transkasi ini Bank Lippo bisa menghasilkan fee base income yang cukup besar. Tingginya transaksi juga karena nasabah Bank Lippo kebanyakan menaruh dananya dalam bentuk giro dan tabungan sehingga transaksi keluar masuk dana cukup tinggi tidak seperti deposito. Bank Lippo juga tetap melakukan pencadangan provisi sebesar 135 persen dari kredit yang ada. Termasuk provisi utuk AYDA sebesar 100 persen.Kinerja 2004Dipaparkan Jos, kinerja Bank Lippo sebelum diaudit untuk tahun 2004 mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp 893 miliar. Ini naik sangat signifikan dibanding 2003 yang rugi Rp 519 miliar. Kenaikan ini berasal dari pendapatan bunga bersih Rp 935 miliar dan pendapatan fee based Rp 485 miliar.Total aset Bank Lippo tahun 2004 meningkat menjadi Rp 27,832 triliun dibandingkan tahun 2003 sebesar 26,466 trilun. Total dana pihak ketiga per 2004 sebesar Rp 24,852 triluun, naik dibandingkan 2003 yang Rp 23,789 triliun.Kinerja CAR per akhir 2004 menguat hingga 20,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya 16,7 persen. Sedangkan LDR meningkat dari 20 persen di 2003 menjadi 22,6 persen. Begitu juga NPL Gross membaik dari 8,8 persen menjadi 6,8 persen. Dalam kesempatan itu Jos juga menegaskan Bank Lippo tidak merencanakan merger atau akuisisi bank lain. Sebaliknya ia mengusulkan kepada BI agar mempercepat konsolidasi perbankan, dan tidak harus melakukan merger atau akuis melainkan bisa dengan akuisisi koperasi.Cara seperti ini, menurut Jos, sudah lazim dilakukan di bank-bank Eropa apalagi pemegang saham Bank Lippo yakni konsorsium Swiss-Asia First Limited anggotanya juga ada yang berasal dari Eropa. "Kalau kita lihat bank-bank besar seperti ABN Amro dan Rabbo Bank juga didukung koperasi," katanya.Jos juga menjelaskan kepemilikan saham keluarga Mochtar Riyadi tingal sebesar 5,7 persen melalui PT Lippo Inet. Sisanya 35 persen publik, dan konsorsium Swiss-Asia 52 persen.
(gtp/)











































