"Kami semalam dengan parlemen membahas intensif mengenai global economy. Kami membahas intensif mengani dampak dari kebijakan ECB," tutur Bambang di depan para investor dalam acara Mandiri Investment Forum 2015 di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (27/1/2015).
Bambang menilai, kebijakan ini tak terlalu berpengaruh besar pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ada dua hal yang menjadi faktor mengapa kebijakan ini tak sedahsyat yang dikeluarkan AS di 2008 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi AS memang lebih besar. Setelah revisi pertama QE di 2010, jumlahnya berkurang menjadi US$ 80 miliar (Rp 960 triliun). Itu pun masih lebih besar dibandingkan QE di Eropa," papar Bambang.
Faktor kedua, lanjut Bambang, adalah ekonomi Tiongkok yang terkoreksi. Ketika AS melakukan QE, ekonomi Tiongkok masih tumbuh 2 digit sehingga mampu menopang perekonomian global.
"Namun tahun ini agak berbeda. QE Eropa lebih rendah, dan sayangnya Tiongkok moderating pertumbuhan ekonominya. Jelas pengaruh QE Eropa, tidak akan sama dengan apa yang dilakukan AS," terangnya.
(zul/hds)











































