"Indonesia depresiasi rupiah hanya 4,8%. Tapi Brasil 13% dan Turki 11%, mereka kena juga depresiasi," tutur Agus kala ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (6/3/2015).
Pelemahan rupiah, lanjut Agus, lebih disebabkan faktor eksternal akibat penguatan dolar AS secara global. Di dalam negeri, dia meyakini perekonomian masih berjalan normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator lainnya, tambah Agus, adalah nilai Credit Default Swap (CDS) Indonesia. CDS adalah indikator yang menggambarkan kemungkinan gagal bayar utang (default).
"Kita sekarang 136. Kalau kami bandingkan dengan akhir 2014, itu angkanya 157. Desember 2013 CDS masih 240. Itu menunjukkan kondisi Indonesia semakin baik," paparnya.
(hds/dnl)











































