Contohnya kalimat yang disebutkan Gubernur The Fed Janet Yellen setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu. Dia tidak menyebutkan secara jelas soal kenaikan suku bunga, tetapi pelaku pasar punya interpretasi sendiri.
"Hasil kajian FOMC menyatakan perlu bersabar untuk memulai normalisasi kebijakan. Artinya, komite menilai belum ada jaminan bahwa ekonomi akan terus membaik," sebut Yellen saat itu seperti dikutip dari CNBC, Rabu (18/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yellen memang tidak pernah memberi petunjuk yang jelas. Namun, setiap kata-kata Yellen mengundang para 'ahli tafsir' di pasar keuangan untuk memberikan interpretasi.
Ternyata hal seperti itu seakan sudah menjadi standar di lingkup The Fed. Menurut Alan Greenspan, mantan Gubernur The Fed, istilah ini disebut Fedspeak.
"Hal yang saya pelajari di The Fed adalah bahasa baru yang disebut Fedspeak. Isinya mungkin Anda hanya bergumam tanpa maksud yang jelas," sebut Greenspan.
Salah satu contoh Fedspeak yang pernah dituturkan Greenspan adalah:
"Anggota Dewan Gubernur melihat ada penguatan aktivitas ekonomi dan masa penyesuaian sudah berakhir. Namun ada tendensi perekonomian masih melambat," kata Greenspan dalam laporannya kepada Kongres AS pada 2001 lalu.
Greenspan menyebutkan kalimat ini dengan konteks pasca krisis dotcom bubble (merosotnya saham-saham teknologi) pada 1999-2001. Sebagian ada yang mengartikan The Fed yakin terhadap proses pemulihan ekonomi, tetapi ada pula yang menerjemahkannya sebagai kehati-hatian.
Kini, istilah Fedspeak sudah jarang dipakai tetapi malah berganti dengan Greenspeak (sesuai dengan nama Greenspan, yang sering menggunakan kalimat semacam ini). Bahkan salah satu lembaga komunikasi memberikan Greenspan sebagai ahli kata-kata ambigu yang kreatif.
Jadi, tidak perlu heran bila kalimat-kalimat yang dilontarkan Yellen sekarang bisa diartikan beragam. Karena ambiguitas sepertinya sudah mendarah daging di tubuh The Fed.
(hds/ang)











































