Desember 2014 jumlah nasabah MAMI mencapai 55.021 orang atau naik 46,7% dalam 4 tahun terakhir. Desember 2010, total nasabah MAMI mencapai 37.494 orang.
Total dana kelolaan selama 4 tahun terakhir naik 86,5% dari Rp 28 triliun di Desember 2010 menjadi Rp 52,3 triliun di Desember 2014
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, kondisi perekonomian global yang digawangi Amerika Serikat (AS) tengah membaik. Isu rencana bank sentral AS yang akan menaikkan tingkat suku bunganya secara otomatis menarik dana-dana investor lari ke negeri Paman Sam.
Namun begitu, Legowo menilai, kondisi ekonomi global tersebut tidak akan berpengaruh signifikan terhadap market di dalam negeri. Hal tersebut bersifat sementara.
"Di balik mata uang rupiah melemah, yang lain juga melemah, dolarnya yang kuat," katanya.
Legowo meyakini, pengaruh perekonomian global terhadap ekonomi Indonesia hanya bersifat sementara. Sama halnya dengan pengaruh di dalam negeri.
Menurutnya, kondisi market akan selalu berfluktuasi merespon segala hal yang ada baik dari dalam maupun luar negeri.
"Pasar modal tiap hari selalu ada masalah, tahun lalu fokus ke pemilu, kita terlalu fokus kesitu, setelah itu ada KPK, kemudian USD versus rupiah, tapi kita tidak melihat apa di balik itu, bahwa kita nggak ngapa-ngapain, tidak investasi saja itu sudah risiko," terang dia.
Terkait itu, Legowo mengakatakan, prinsip berinvestasi adalah jangka panjang. Lihat peluang dalam setiap kejadian.
"Pemerintah kan lagi fokus infrastruktur, bangun irigasi sampai pembangkit listrik 35 ribu megawatt, itu opportunity, dolar cuma short term sama halnya pas waktu pemilu jadi lihatnya jangka panjang," jelas Legowo.
Dalam kesempatan yang sama, Executive Vice President Head of Wealth and Asset Management, Asia and Chief Executive Officer Manulife Asset Manajement Hong Kong
Michael Dommermuth mengungkapkan, Indonesia punya potensi yang tinggi untuk bisa meningkatkan jumlah investor.
Pertumbuhan kelas menengah yang begitu cepat bisa dijadikan peluang untuk mengajak masyarakat mulai berinvestasi.
"Pertumbuhan middle class di Indonesia begitu cepat. Ini peluang.
Saat ini, kata Michael, masyarakat Indonesia sudah mulai mengubah diri dengan melakukan proteksi diri melalui asuransi. Ini harus terus ditingkatkan.
"Kita telah melakukan survei tentang keuangan mereka, mereka ingin sekolah, menikah, menjaga kesehatan, dan lain-lain. Saat ini orang-orang mulai berpindah, memproteksi diri," ucap dia.
(drk/ang)











































