MMM Sudah Dicekal di Negara Lain, Pemerintah Harus Turun Tangan

MMM Sudah Dicekal di Negara Lain, Pemerintah Harus Turun Tangan

- detikFinance
Senin, 30 Mar 2015 14:45 WIB
MMM Sudah Dicekal di Negara Lain, Pemerintah Harus Turun Tangan
Salah satu pertemuan MMM di India (Foto: Money Life India)
Jakarta - Kiprah permainan uang MMM di Indonesia belum pudar. Meski tahun lalu sempat kolaps, Mavrodi Mondial Moneybox, atau di Indonesia dikenal dengan Manusia Membantu Manusia (MMM), kini mulai menggaet pemain baru.

Selain di Indonesia, MMM yang diciptakan mantan kriminal Rusia, Sergey Mavrodi, ini juga pernah dijalankan oleh beberapa negara. Tentunya bukan di negara besar yang rata-rata warganya sudah melek keuangan, tapi negara-negara berkembang yang ilmu keuangannya tidak merata.

MMM ini diciptakan di Rusia oleh Mavrodi pada 1989 silam. Jauh sebelum menciptakan money game yang katanya ingin melawan sistem kapitalis dunia, MMM hanyalah perusahaan jual-beli komputer dan peralatan kantor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sempat dituduh menggelapkan pajak, MMM banting setir ke usaha jual-beli saham. Bisnisnya pun tak kunjung membaik, hingga tahun 1994 mereka memutuskan untuk memulai usaha dengan skema piramid alias Ponzi.

Skema Ponzi adalah skema permainan uang yang mengandalkan orang lain dalam melipatgandakan uang. Contohnya, satu klien bisa mendapat uang jika ada anggota baru yang memasukan uang, dan begitu seterusnya.

Jika suatu saat tidak ada lagi klien yang mau masukan uang, maka di situlah permainan berakhir. Karena dalam skema ini tidak ada investasi, tidak ada barang, tidak ada bisnis. Murni hanya perputaran uang secara massal yang digerakan oleh uang para anggotanya sendiri.

Artinya, keuntungan yang didapat benar-benar hanya mengandalkan kerelaan orang lain. Biasanya, supaya orang lain mau bergabung maka harus ada iming-iming keuntungan yang tinggi dan kisah keberhasilan mereka yang sudah sukses bermain uang lebih dulu.

Rayuan seperti ini kerap berhasil, terutama di negara dengan edukasi keuangan minim seperti di Indonesia. Begitu melihat ada orang sukses tanpa harus kerja keras, orang Indonesia biasanya langsung latah dan ikut-ikutan.

Skema ponzi ini biasanya disamarkan melalui bisnis koperasi, MLM, atau aneka bisnis investasi lainnya. Nah, MMM ini dengan gamblang menyebut mereka bukan bisnis, tapi murni skema piramida untuk bermain uang.

Lebih hebatnya lagi, meski ini permainan berisiko tinggi dan berpotensi dana hilang dalam sekejap, anggotanya malah terus bertambah banyak.

Hal itu persis terjadi di Rusia. Banyak warga Negeri Beruang Merah itu yang berbondong-bondong daftar jadi anggota. Sampai akhirnya MMM ketahuan menggelapkan pajak dan harus ditutup pada 1994.

Anggotanya yang masih menunggu get help (GH) istilah menunggu transferan dari para anggota lain pun tidak bisa menerima uangnya kembali yang masing-masing menunggu 50 miliar- 100 triliun rubel.

MMM kemudian dinyatakan bangkrut pada bulan September 1997. Sergey Mavrodi pun sempat menghilang.

Tak kapok menipu rakyat Rusia, ia kembali muncul dengan bantuan kerabatnya dengan menciptakan skema bisnis serupa tapi dengan berkedok jual beli saham dengan janji keuntungan 200%.

Rakyat Rusia yang tidak sadar ini perusahaan bikinan Mavrodi kembali mendaftarkan diri. Tidak lama kemudian, bisnis ini kembali bangkrut dan sekitar 275.000 orang kehilangan uang mereka.

Sampai pada 2003 Mavrodi dibekuk dan dijebloskan ke penjara dengan berbagai tuntuan, mulai dari penggelapan pajak hingga penipuan skala masif. Hampir lima tahun di penjara tak membuat Mavrodi kapok.

Ia kemudian menjalankan skema yang sama di India. Pada tahun 2011 muncul lah MMM India. Namun permainan uang dengan skema Ponzi ini pun tidak bertahan lama.

Seperti di Indonesia, MMM India sejak awal membuka diri bahwa entitasnya bukan perusahaan bukan pula bisnis, murni skema piramida dan Ponzi. MMM India menjanjikan keuntungan 30% per bulan.

Caranya sama, setor uang dan berharap disetor oleh anggota lain di bulan berikutnya, begitu seterusnya. Setelah setor, para anggota akan mendapat mata uang virtual bernama Mavro.

Ada ketentuan para anggota ini harus memegang minimal 100 unit Mavro atau sekitar 5.000 rupee atau sekitar Rp 1 juta. Dana anggotanya ini ternyata masuk ke pihak yang ditunjuk Mavrodi untuk menjalankan MMM India.

Intinya sama saja, dengan di Indonesia. Dalam satu dan dua tahun tidak ada masalah. Anggota masih dapat uangnya kembali ditambah keuntungan bulanan. Tidak ada yang merasa ditipu, semua senang.

Makin lama, makin terasa anehnya. Pembayaran untung MMM India ke anggotanya mulai tersendat. Kenapa? Ya sudah tidak ada lagi anggota baru.

Uang yang berputar hanya di anggota lama saja. Lama-lama habis itu uang dipakai berbagai keperluan para anggotanya. Mereka hanya berharap dapat untung dari MMM tanpa mencari uang dari tempat lain, sementara uang baru pun tidak ada karena tidak ada anggota baru.

Perencana Keuangan Aidil Akbar mengatakan, selama masih ada anggota baru dan orang yang ingin cepat kaya maka MMM di Indonesia akan terus berjalan. Maka dari itu, pemerintah sebaiknya tidak diam saja dan segera melakukan langkah preventif sebelum ad korban kehilangan uang.

"Pemerintah harus turun tangan, bilang bahwa ini dilarang. Di negara lain saja sudah ditutup," kata Aidil kepada detikFinance, Senin (30/3/2015).

Menurut Aidil, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tidak bisa diam saja karena menggangap MMM bukan lembaga keuangan sehingga tidak ada langkah yang bisa dilakukan.

"Ini money game dan ini ilegal. Peran pemerintah penting. Yang bakal dirugikan nanti kan orang-orang bawah. Orang-orang yang tak punya akses informasi keuangan yang diiming-imingi cepat kaya," imbuhnya.

(ang/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads