Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI, tidak menampik bahwa penurunan cadangan devisa disebabkan intervensi yang dilakukan BI untuk 'menjaga' nilai tukar rupiah. Maklum, bulan lalu dolar Amerika Serikat (AS) memang sempat 'menggila' sampai ke Rp 13.200.
"Sudah intervensi. Bank Indonesia selalu ada di pasar dengan serius," kata Mirza di komplek Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ini melemah katakan sekitar 4-5%. Euro saja pelemahannya 15%. Jadi tidak harus terlalu kita khawatirkan," tegasnya.
Hal yang terpenting, lanjut Mirza, BI dan pemerintah sudah mengambil langkah untuk menstabilkan rupiah. Misalnya dengan paket kebijakan yang sudah diumumkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengurangi defisit transaksi berjalan.
"Pemerintah pada track yang benar untuk mengurangi defisit. Kalau defisit berkurang, pasti rupiahnya akan lebih stabil atau bahkan bisa menguat," katanya.
Pada kuartal I-2015, Mirza yakin defisit transaksi berjalan bisa turun. Terakhir, defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2014 adalah 2,81% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Polanya memang kuartal I baik, kemungkinan bisa di bawah 2% PDB. Kami cukup optimistis, memang kuartal II bisa lebih besar dari kuartal I defisitnya. Pemerintah sudah membuat paket-paket kebijakan itu, bagaimana mengurangi defisit," jelas Mirza.
(mkl/hds)











































