Deputi Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Sri Rahayu Widodo dalam sambutannya, mengharapkan Pasar Keuangan Rakyat yang dilaksanakan bersama industri jasa keuangan ini bisa mengubah persepsi masyarakat, tentang sulit dan mahalnya memanfaatkan sektor jasa keuangan.
"Pasar Keuangan Rakyat ini diharapkan bisa menunjukkan pada masyarakat, bahwa produk dan layanan sektor jasa keuangan saat ini mudah dan murah, serta bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Sri dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersamaan dengan kegiatan ini, OJK juga menggelar pelatihan untuk pengajar (ToT) di Aula Kabupaten Pidie dengan memberikan edukasi keuangan untuk perangkat desa dan tokoh masyarakat, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pidie. Kegiatan ToT tersebut diikuti oleh 50 orang yang berasal dari perangkat desa, guru, dosen, pemuka agama dan pelaku usaha UMKM.
Layanan Keuangan Mikro yang gencar didorong OJK ini sejalan dengan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia, khususnya Pilar Ketiga yaitu Pengembangan Produk dan Layanan Jasa Keuangan.
Layanan Keuangan Mikro adalah, layanan terpadu yang menyediakan produk dan jasa keuangan mikro untuk masyarakat berpenghasilan rendah (low income) dengan proses yang sederhana dan cepat, akses yang mudah, dan harga yang terjangkau.
Adapun produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam Layanan Keuangan Mikro di antaranya:
Produk keuangan
- Simpanan (TabunganKu atau tabungan sejenis)
- Investasi (cicilan emas dan reksa dana mikro)
- Proteksi (asuransi mikro)
- Pinjaman (kredit/pembiayaan mikro)
- Konsultasi dan informasi produk dan jasa keuangan
- Jasa pengiriman uang (transfer)
- Jasa pembayaran dan pembelian
Kegiatan Pasar Keuangan Rakyat ini merupakan lanjutan dari peluncuran Layanan Keuangan Mikro tanggal 18 Desember 2014 di Desa Karangsong Indramayu.
Pada tahun 2015 OJK mencanangkan program sosialisasi sekaligus mendorong serta mendukung Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) menyediakan Layanan Keuangan Mikro, sehingga dapat menjangkau masyarakat yang selama ini belum terjangkau layanan di sektor jasa keuangan, khususnya yang berpenghasilan rendah dan UMKM.
Berdasarkan hasil survey nasional literasi keuangan Indonesia yang dilaksanakan oleh OJK pada tahun 2013, tingkat literasi keuangan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah hanya sebesar 18,71%, dengan tingkat inklusi keuangan sebesar 55,98%. Mayoritas inklusi keuangan di Indonesia terjadi di sektor perbankan.Untuk kelompok UMKM, tingkat literasi keuangan hanya sebesar 15,68% dengan tingkat inklusi keuangan sebesar 53,34%.
(rrd/wij)











































