BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 sebesar 5,4-5,8%. Perlambatan ekonomi Indonesia ini juga dialami negara-negara lain di dunia kecuali India.
Demikian dikatakan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam acara Peluncuran Buku dan Diskusi Laporan Perekonomian Indonesia 2014 di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Rabu (29/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
World Economic Outlook juga merevisi pertumbuhan ekonomi berbagai negara di tahun 2014 dan paling parah dialami Tiongkok yang direvisi menurun menjadi hanya 6,8% di 2015 dan 6,3% di 2016 dari sebelumnya ditargetkan di angka 7,1% di 2015 dan 6,8% di 2016.
"Pertumbuhan ekonomi Rusia juga direvisi dari 0,5-1,5% menjadi minus 1,1%. Hanya India yang revisi naik dari 6,4% di 2015 dan 6,5% di 2016, revisi jadi 7,5% di 2015 dan 2016," katanya.
Agus mengatakan, berbagai kondisi ekonomi dunia di 2014, berbagai gejolak pasar keuangan terjadi seperti default Surat utang Argentina, merosotnya nilai tukar euro, kejatuhan mata uang rubbel ikut mempengaruhi dinamika ekonomi global.
Menurut Agus, rupiah secara umum melemah karena dolar AS terus menguat tapi ini dialami semua negara.
Secara year to date (ytd), pelemahan rupiah sudah mencapai angka 4%, namun ini lebih baik dibandingkan negara lain yang pelemahannya jauh lebih tinggi.
"Pelemahan 4% masih jauh lebih ringan. Kami mencermati ketergantungan tinggi SDM berdaya nilai rendah, ini rentan, ekspor menurun tajam dan merosotnya harga komoditas ekspor. Ekspor Indonesia 50% dalam bentuk produk primer mentah, komponen Utama kelapa sawit dan batubara, timah dan nikel juga turun, ini tentu menjadi perhatian kita," jelas Agus.
Hal ini, kata Agus, membuat laju transaksi berjalan Indonesia defisit akibat impor tinggi sedangkan ekspor sebaliknya. Selama 3 tahun terakhir, Current Account Deficit (CAD) semakin tajam mencapai US$ 29 miliar di tahun 2013, di kuartal III-2013 mencapai 4,4% dari GDP.
"Ini jumlah yang cukup besar. Kerentanan tambahan di tingkat mikro, ULN korporasi membesar. Utang swasta dan pemerintah naik US$ 162 miliar, cukup tinggi, 47% ULN swasta dan BUMN dak dilakukan lindung nilai," kata Agus.
Agus menambahkan, BI telah memperkuat bauran kebijakan salah satunya dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan BI atau BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,75% pada November 2014.
"BI memperkuat operasi Moneter, kebijakan rupiah dan makor prudential, kebijakan menaikkan BI rate sebagai satu langkah. Kalau pun inflasi naik hanya temporer, kita harus memperbaiki CAD," katanya.
(drk/hen)











































