Perlambatan pada ekonomi dan bisnis mempengaruhi pertumbuhan kredit industri di kuartal I-2015. BII juga mengalami dampak dari perlambatan ekonomi dan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 6,2% dari Rp 101,3 triliun pada Maret 2014, menjadi Rp 107,6 triliun pada Maret 2015.
Kenaikan laba BII ini didorong oleh kenaikan Pendapatan Bunga Bersih 9,6%, dari Rp1,5 triliun di Maret 2014, menjadi Rp 1,6 triliun di Maret 2015, sejalan dengan membaiknya marjin bunga bersih menjadi 4,85% dari 4,73%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simpanan nasabah di BII menunjukkan pertumbuhan 1% pada kuartal I-2015, dari Rp 104,0 triliun menjadi Rp 105 triliun per 31 Maret 2015.
Rasio Loan-to Deposit BII terjaga pada tingkat 91,89% per 31 Maret 2015, sementara LDR konsolidasi BII (Loan to Funding Ratio) yang termasuk pada pinjaman, penerbitan sekuritas, sub debt, dan simpanan nasabah terjaga pada 82,64%.
Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BII berada pada level 2,80% (gross) dan 1,91% (net). BII menyatakan tetap waspada pada kualitas kredit, karena beberapa usaha masih merasakan dampak lemahnya sektor komoditas dan pertambangan, perlambatan ekonomi dan lemahnya rupiah.
Di sektor syariah, total pembiayaan Syariah tumbuh 116,2% dari Rp 3,4 triliun di Maret 2014 menjadi Rp 7,4 triliun di Maret 2015. Bisnis syariah memberikan kontribusi 6,9% terhadap total portofolio kredit BII.
Kenaikan pada total pembiayaan syariah disertai dengan membaiknya kualitas aset tercermin dari penurunan non performing financing menjadi 0,77%, dari sebelumnya 2,42%. Total simpanan meningkat 42,5%, dari Rp 3,2 triliun menjadi Rp 4,6 triliun di Maret 2015.
Β
(dnl/hen)











































