Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan, beberapa penyebab perkembangan perbankan syariah di Indonesia tak berkembang pesat, tak seperti bank konvensional atau bank umum.
"Memang dari kelembagaan kita nomor 3 di dunia. Berarti banyak sekali. Tapi asetnya masih kecil hanya kita di nomor 9 dengan aset US$ 35,6 miliar," kata JK dalam acara pertemuan tahunan Ikatan Ekonomi Islam Indonesia yang dihadiri oleh Menkeu, Gubernur BI, Ketua DK OJK di Gedung Kemenkeu, Kamis (30/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jawabannya sederhana? Siapa yang pakai bank itu? Para Pengusaha. Dan pengusaha itu apa pendiriannya. Pertama ingin syariah dan kedua inginnya usahanya maju," kata JK.
JK mengilustrasikan, bila ada seorang pengusaha di Indonesia pergi haji berkali-kali belum tentu menggunakan jasa bank syariah, termasuk dalam hal berbisnis. Penyebabnya karena tak semua orang mengerti dengan bank syariah, meski mayoritas 80% di Indonesia adalah muslim.
"Tantangannya bukan cuma syariah, tapi mendorong kita semua umat ini, mengikuti sunah rasul. Di mana-mana itu saya katakan, Pak Kiyai pidato nasihat perkawinan didahului, nikah adalah sunah rasul, tak pernah mengatakan berdagang itu sunah. Padahal rasul sebelum nikah itu berdagang dulu. Mestinya Berdagang dulu baru menikah," katanya disambut tepuk tangan.
Artinya peranan penceramah bisa mempengaruhi persepsi masyarakat dalam bersikap. Misalnya pada satu kesempatan, JK pernah mendengar seorang yang berceramah yang menyebutkan Nabi Muhammad menempatkan masjid sebagai tempat yang paling dicintai, dan menempatkan pasar sebagai tempat yang tak disenangi. Mendengar pernyataan itu, JK langsung menyampaikan sanggahannnya langsung di depan sang penceramah.
"Tidak mungkn rasul asalnya pedagang membenci pasar, Abubakar masak benci pasar. Tidak mungkin. Pasti salah itu. Saya juga tak hafal hadisnya," katanya.
Selain itu, JK mencatat pelaku ekonomi syariah termasuk perbankan syariah yang belum kompetitif.
"Ada tiga hal yang akan membuat sebuah bisnis itu berjalan bagus. Harus lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. Kalau syariah cuma itu dicantumkan. Apa bedanya. Jangan ekonomi kita berkelit saja. Tidak ada bunga, tapi administrasi tinggi," katanya.
(mkl/hen)











































