"Kalau melihat dari data sampai Desember 2014, di perbankan kontribusinya masih kecil. Baru Rp 17,6 triliun. Padahal kalau kredit perbankan realisasnya sudah Rp 3.000 triliunan lebih. Jadi yang ke sektor kelautan dan perikanan masih sangat kecil,"β ujar Deputi Komisioner Pengawas Bank Irwan Lubisβ dalam paparannya di Kantor Pusat OJK, Jakarta, Senin (4/5/2015).
Padahal, sambung dia, pelaku industri perbankan dan industri jasa keuangan non bank mulai melirik sektor ini karena semakin menggeliat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menganggap bank masih enggan masuk dalam bisnis pembiayaan di sektor ini lantaran belum adanya model pembiayaan baku yang bisa dijadikan acuan hinggi masih adanya anggapan bahwa pembiayaan di sektor ini sangat tinggi risiko.
"Risiko tinggi untuk NPL (Non Performing Loan/Kredit Macet). Sulitnya mendapat agunan, masalah ketidakpastian pendapatan karena iklim dan sebagainya," jelas dia.
Namun OJK pun, kata dia, tak tinggal diam. Saat ini lembaga superbody di sektor keuangan itu tengah mengupayakan mencari terobosan pembiayaan agar sektor ini lebih aman untuk dibiayai. Selain itu nelayan juga lebih mudah dalam mengakses layanan jasa keuangan.
"Kita membentuk working group atau kelompok kerja (pokja) yang terdiri dari Departemen Teknis KKP, Asosiasoi Bank dan Perusahaan Pembiayaan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan elemen lainnya.β Mereka akan membicarakan perihal skema pembiayaan hingga melakukan riset peluang pasar untuk mengetahui sektor apa yang bisa dibiayai, siapa penerimanya dan bagaimana menyalurkan hingga menjaminkannya," tutur dia.
Dengan cara ini, diharapkan porsi pembiayaan oleh perbankan bisa meningkat hingga 67% di sektor kelautan dan perikanan ini.
"Sekarang masih Rp 17,6 triliun. Diharapkan akhir tahun 2015 bisa Rp 28-29 triliun. Kami optimistis hal tersebut bisa tercapai," jelas dia.
Selain itu, dengan upaya ini, diharapkan penyaluran kredit dan pembiayaan sektor kelautan dan perikanan bisa lebih merata.
"Sekarang itu 75% masih ke kredit modal kerja. Ke depan kita harapkan lebih merata bisa ke kredit peralatan, produksi, pengolahan, rumput laut dan sebagainya. Dengan riset dari pokja tadi diharapkan perbankan bisa melihat dan menganalisa sendiri sektor apa yang menurut merek bisa dibiayaai. Tidak melulu ke modal kerja," pungkas dia.
(dna/ang)










































