Para pengusaha di bawah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak pemerintah membentuk bank khusus pembiayaan ekspor dan produksi sektor industri agar bisa bersaing di ASEAN. Hal ini sebagai solusi dari masalah bunga bank untuk sektor industri dari bank umum di Indonesia yang sangat tinggi hingga di atas 12%.
"Di Indonesia rata-rata bunga bank untuk industri 12% ke atas, sementara negara ASEAN rata-rata hanya 7%, di Filipina 7%, Korea 4,5%, di Malaysia 5%," kata Ketua Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam acara diskusi pembiayaan investasi di bidang industri di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (5/5/2015).
Acara ini dihadiri oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin, Wakil Ketua Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P Roeslani, anggota DPR-RI Airlangga Hartarto, dan para wakil ketua Kadin lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, dasar desakan adanya pembentukan bank khusus karena sesuai dengan UU No 3 tahun 2014 tentang perindustrian yang mengamanatkan pembentukan lembaga pembiayaan pembangunan industri. Bentuknya bisa sebagai lembaga keuangan untuk pembiayaan UKM, pertanahan, dan lainnya.
"Pendanaannya dari APBN dalam bentuk injeksi modal, bukan mengumpulkan dana pihak ketiga (masyarakat). Bentuknya bisa konsorsium BUMN, atau bank khusus ekspor industri," katanya.
Harapannya dengan adanya bank khusus ini, sektor industri bisa mendapatkan pembiayaan hulu dan hilir dengan jangka waktu pinjaman yang panjang. Selama ini rata-rata bank umum memberikan bunga kredit dengan bunga ringan untuk pembiayaan hanya selama 1 tahun, sedangkan lebih dari itu bisa mencapai 12% lebih.
"Di Indonesia belum ada bank umum nasionak membiayai investasi perusahaan dalam jangka panjang," kata Wakil Ketua Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P Roeslani.
Selain itu, bank khusus industri bisa memberikan bunga lebih rendah dari saat ini karena adanya suntikan dana murah dari pemerintah. Pembentukan modal awal bank ini juga bisa dilakukan bertahap sebesar Rp 10 triliun.
"Sehingga bisa mengikuti acuan bunga untuk industri di negara-negara ASEAN yang rata-rata 5%," katanya.
Ia mencatat, setiap tahun ada pinjaman dari dalam dan luar negeri termasuk bank dalam negeri mencapai Rp 650,9 triliun untuk sektor industri. Angka ini setara dengan 25% seluruh pembiayaan yang ada Indonesia setiap tahun.
(hen/rrd)











































