Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, lembaga keuangan yang bisa memberi kredit terjangkau bagi pengusaha bisa menggantikan pinjaman asing yang selama ini banyak dipakai pengusaha dalam negeri untuk industri manufaktur.
"Tak mungkin mencari dana untuk pembangunan manufaktur yang jangka waktunya bisa sampai 7 tahun dengan bunga terjangkau (5%) dari bank umum nasional, itu hanya bisa dilakukan oleh bank khusus industri. Padahal di negara yang pertumbuhan ekonomi aktif pasti pemerintahnya sudah membentuk bank khusus," kata Suryo dalam acara diskusi pembiayaan investasi di bidang industri di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (5/5/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan sudah ada UU No.13 tahun 2014 tentang industri. Tinggal dipaskan saja," kata Airlangga.
Ia mengatakan lembaga pembiayaan industri ini bisa disinergikann dengan bank ekspor yang sudah ada.
"Harus satu paket. Makanya coba lihat, bank Jepang kalau kasih pinjaman untuk MRT Jakarta, harus pakai kereta mereka, engineer harus dari mereka. Nggak duit mereka tapi keretanya China. Ini juga yang membuat rupiah lemah. Karena kita meminjam uang, kita juga harus impor produk industri mereka," kata Airlangga
Bank Indonesia (BI) mencatat per Februari, Utang Luar Negeri (ULN) sektor publik atau pemerintah adalah US$ 134,8 miliar (45,1% dari total ULN). Sedangkan ULN sektor swasta sebesar US$ 164,1 miliar (54,9% dari total ULN).
Posisi ULN pada akhir Februari 2015 tercatat sebesar US$ 298,9 miliar atau tumbuh 9,4% (year-on-year), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan Januari 2015 sebesar 10,5%.
(hen/hen)











































