Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin menuturkan kehadiran para CEO tersebut membuktikan bahwa masih ada optimisme terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun pada kuartal I 2015, ekonomi hanya tumbuh 4,71%.
"Semua CEO ini datang karena sangat optimis terhadap Indonesia, sebab kita adalah pilar di Asia," ungkapnya dalam seminar yang digelar di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Kamis (7/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap tahun harus mencapai US$ 80 juta untuk membangun infrastruktur," jelasnya.
Lemahnya pertumbuhan ekonomi tak lepas dari perekonomian global yang lebih rendah dari tahun sebelumnya. Kemudian juga ada persoalan harga komoditas yang turun sejak tiga tahun terakhir ditmbah harga minyak dunia yang turun pada akhir tahun lalu.
Dari dalam negeri, konsumsi rumah tangga cenderung stabil. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, konsumsi menjadi pendorong yang cukup besar untuk perekonomian dalam negeri.
"Makanya kita harus banyak konsumsi dalam negeri. Seperti dulu kita menyuarakan untuk menggunakan batik, saya juga pakai batik hari ini mendorong industri dalam negeri," imbuhnya.
Pada sisi lain akses masyarakat ke jasa keuangan sangatlah lemah. Setelah 350 tahun lahirnya perbankan, baru 60% masyarakat Indonesia yang terkoneksi dengan jasa keuangan. Posisi bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan pangsa pasar industri rokok.
"Perusahaan rokok sangat mudah mengakses masyarakat. Karena masyarakat perokok itu lebih banyak dari pada yang melek keuangan," terang Budi.
(mkl/ang)











































