Perlambatan ini akan membuat penyaluran kredit perbankan juga ikut melambat hanya di level 12% atau maksimal 14% sepanjang tahun ini, jauh di bawah perkiraan Bank Indonesia (BI) sebesar 15-17% dan 16-18% dari perkiraan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Pertumbuhan kredit hanya 12%, maksimal 14%, pendorong sektor berbasis komoditas, mining negatif," kata Ekonom BTN Agustinus Prasetyantoko saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (8/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena sektor properti banyak berpengaruh ke lainnya, karena dia banyak men-drive pertumbuhan ekonomi," katanya.
Di samping itu, Pras menyebutkan, perrtumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan hanya akan bertumbuh di level 5-5,2%, lebih rendah dari perkiraan pemerintah di angka 5,7%. Meski begitu, Pras mengatakan, ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik.
"Jadi memang secara umum baik, tetapi bahwa kita tumbuh di bawah potensi yang kita bisa, kalau IMF mengatakan its time to worry, saatnya khawatir itu karena realisasi di kuartal pertama ini menunjukkan tidak sesuai harapan. Kalau ditanya ini baik ya baik tapi kalau maksimum belum," jelas dia.
(drk/ang)











































