Demikian disampaikan Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Endy Dwi Tjahjono dalam konferensi persnya di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (15/5/2015).
Endy menyebutkan kinerja transaksi berjalan di kuartal I-2015 membaik. Tercatat, defisitnya turun US$ 3,8 miliar atau -1,8% dari PDB. Defisit tersebut lebih rendah dari defisit transaksi berjalan di periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 4,1 miliar atau 1,9% dari PDB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Turunnya harga minyak dunia dan reformasi subsidi BBM mendorong perbaikan neraca perdagangan migas," kata dia.
Lebih jauh Endy menyebutkan, defisit neraca perdagangan migas di kuartal I-2015 turun 55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan defisit terutama karena impor minyak yang tercatat lebih rendah 40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, bahkan -47% secara year on year (yoy).
Di samping harga impor yang terkoreksi tajam, penurunan impor minyak dipengaruhi oleh turunnya volume impor BBM sejalan dengan konsumsi BBM yang telah tumbuh negatif baik secara tahunan maupun kuartalan.
"Perbaikan lebih lanjut neraca perdagangan migas tertahan oleh lifting yang rendah dan harga ekspor migas yang terkoreksi turun," katanya.
Di sisi lain, neraca perdagangan non migas masih tertekan oleh kinerja ekspor yang melemah.
Surplus neraca perdagangan non migas menyusut menjadi US$ 4,3 miliar dari US$ 5,2 miliar di kuartal I-2014.
Penurunan surplus terutama karena harga ekspor, khususnya harga produk primer, yang kembali terkoreksi tajam meskipun volume ekspor masih meningkat.
"Kontraksi impor menahan lebih lanjut surplus neraca perdagangan non migas," ujar dia.
Impor non migas kuartal I-2015 masih melanjutkan penurunan sebesar 8% secara qtq atau 4% yoy.
Penurunan terjadi di seluruh kelompok barang dan terutama karena penurunan volume impor.
Berkurangnya defisit neraca berjalan disumbang juga oleh perbaikan kinerja neraca jasa, pendapatan primer, dan sekunder.
Defisit neraca jasa menurun sejalan dengan turunnya impor dan berkurangnya jumlah dan pengeluaran wisata nasional ke luar negeri.
Sementara itu, kinerja neraca pendapatan primer membaik seiring pola musiman distribusi pendapatan investasi dan pembayaran bunga pinjaman luar negeri yang lebih rendah.
(drk/ang)











































