Perintah Rini Soemarno ke Bank BUMN: Serap Dana China

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 20 Mei 2015 18:20 WIB
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno tadi siang mengumpulkan Direksi dari 3 Bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Dari pertemuan tersebut, Menteri Rini meminta perbankan pelat merah untuk menyerap dana pinjaman dari China Development Bank (CDB).

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama Bank Mandiri Budi G. Sadikin di sela MoU antara Bank Mandiri dan Accor di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

"Tadi itu pertemuannya lebih banyak eksekusi pembiayaan China. Skemanya tadi ibu (Rini), bagaimana agar dana dari China segera dieksekusi," kata Budi.

Dari pertemuan tersebut, 3 Bank BUMN dan Menteri Rini sepakat dana dari China dipakai untuk membiayai kredit (refinancing) pada proyek-proyek infrastruktur yang telah dibiayai oleh perbankan BUMN, seperti Jalan Tol Atas Laut Bali. Artinya proyek yang telah dibiayai oleh Bank BUMN selanjutnya kreditnya ditalangi oleh dana dari China.

Dana dari talangan untuk proyek yang sedang atau sudah berjalan selanjutnya diputar kembali oleh perbankan BUMN untuk membiayai proyek infrastruktur lain. Program refinancing akan lebih banyak menyasar proyek pembangunan pembangkit listrik yang sedang berjalan.

"Misalnya tol Bali, mungkin pinjaman Rp 1,8 triliun sampai Rp 2 triliun, sekarang turun tinggal Rp 600 miliar dan itu sudah nggak ada risiko konstruksi," ujarnya.

Program refinancing untuk proyek yang telah berjalan dipilih karena alasan risiko. Bila membiayai proyek baru, Budi menyebut proses penyerahan dana dari CDB hingga ICBC yang mencapai US$ 50 miliar bisa berlangsung lama, karena perlu proses kajian mendalam untuk membiayai proyek baru.

"Maka kita cari proyek yang sudah jalan, bisa dilihat, construction risk nggak ada karena sudah dibangun. Cash flow sudah ada karena sudah operasi," ujarnya.

Saat ditanya berapa besar nilai proyek tahun 2015 yang akan ditanggung atau dibiayai oleh China, Budi masih belum mau membuka angkanya. Namun penyerapan pinjaman China akan dimulai setelah triwulan-III 2015.

"Kita bicara double digit triliun. Itu kredit dari Mandiri, BNI dan BRI," ujarnya.



(Feby Dwi Sutianto/Zulfi Suhendra)