Dirut Bank Mandiri: Buka Satu Cabang di RI Rp 3 Miliar, di Malaysia Rp 3 Triliun

Dirut Bank Mandiri: Buka Satu Cabang di RI Rp 3 Miliar, di Malaysia Rp 3 Triliun

- detikFinance
Kamis, 21 Mei 2015 18:17 WIB
Dirut Bank Mandiri: Buka Satu Cabang di RI Rp 3 Miliar, di Malaysia Rp 3 Triliun
Jakarta - Keinginan bank-bank asal Indonesia untuk membuka cabang di luar negeri, khusus negara tetangga masih menghadapi banyak tantangan. Contoh saja di Malaysia, yang persyaratan modal membuka cabang bank asing yang tinggi.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya menargetkan di 2020 sudah punya cabang di ASEAN termasuk Malaysia. Lebih baik bila bisa lebih cepat dari target tersebut. Namun untuk Malaysia, persyaratan modalnya terlalu berat.

Bayangkan, untuk bank asing diharuskan memiliki modal Rp 3 triliun dan hanya boleh membuka satu cabang. "Kalau satu cabang ya harusnya Rp 100 miliar sudah cukup. Kondisi seperti itu yang masih jadi kendala. Nah katanya sekarang sudah dilonggarkan, tapi yang mana? Kan belum tertulis," kata Budi di Plaza Bapindo, Jakarta, Kamis (21/5/2015).

Budi mengatakan, Bank Mandiri sudah mengirimkan tim ke Malaysia untuk memastikan persyaratan pembukaan cabang di negara tersebut.

"Kalau buka cabang di Indonesia modalnya paling Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar. Misal suruh buka satu cabang tapi harus setor Rp 3 triliun susah kami. Itu halangannya. Kami buka dengan modal Rp 5 triliun pun tidak masalah, asal jangan dibatasi jumlahnya, kami dicegatnya di sini," tutur Budi.

"Kami dulu rencana buka 20 cabang, mereka boleh silakan buka 20 cabang. Nah dalam 6 bulan kami sudah bikin 6 cabang, mereka juga tidak menyangka dalam waktu sebentar itu sudah ada 6, terus mereka tiba-tiba, alasannya harus diaudit dulu, menunggu auditnya setahun, suruh lengkapkan ini itu dulu sebelum ekspansi," papar Budi.

Pada kesempatan itu, Budi bercerita soal cabang Bank Mandiri di Shanghai, China yang sudah mulai meraup untung.

"Kami sudah ingin sekali buka di sana, karena trading Indonesia kan besar sekali di Tiongkok, nanti dengan adanya proyek infrastruktur yang didanai sama China kan bisa lebih besar lagi (untungnya)," katanya.

(Wahyu Daniel/Angga Aliya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads