"Ada isu yang menarik hari ini, yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia dan yang disampaikan Menteri Keuangan itu beda. Isu pertama Menteri Keuangan mengatakan bahwa pertumbuhan kita pada tahun 2016 bisa mencapai 5,8% sampai 6,2%. Sementara Bank Indonesia mengatakan itu tidak bisa, hanya 5,4% sampai 5,8%," ujar Fadel ditemui di Diskusi Urgensi JPSK Dalam Menjaga Stabilitas Perbankan, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (9/6/2015).
Tak hanya soal pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, pemerintah dan bank sentral juga menggantung ketidakpastian makro ekonomi dengan pernyataan-pernyataan yang tak sinkron.
"Setelah beda soal pertumbuhan ekonomi, kemudian Menteri Keuangan menyampaikan rupiah kita bisa sampai mencapai Rp 13.200 maksimum. Fakta yang sekarang terjadi sudah berlebih, makanya Bank Indonesia menyatakan sampai Rp 13.400 sampai tahun depan. Tapi Gubernur Bank Indonesia juga baru bikin rilis lagi itu bisa naik lagi di atas Rp 13.400," jelasnya.
Menurut Fadel, selain memperkeruh suasana, ini juga jadi indikasi pemerintah dan Bank Indonesia tidak singkron dalam pengendalian kestabilan ekonomi.
"Maka sekarang kita lihatnya mereka harus sinkron, sehingga selalu membuat labil," jelas Mantan Gubernur Gorontalo ini.
Tak hanya masyarakat, dirinya sebagai Ketua Komisi XI DPR-RI dan rekan-rekan komisinya juga dibuat bingung dengan pernyataan BI dan pemerintah.
"Lain kali kita minta Gubernur BI jangan sampai BI bikin masyarakat nggak percaya sama BI dan pemerintah," tegasnya.
(ang/ang)











































