Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Doddy Zulverdi mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama keputusan BI rate tetap di angka 7,5%. Dolar terus bergerak di kisaran Rp 13.300.
"Suplai dolar kita belum memadai, ini bikin rupiah tertekan," kata Doddy, saat ditemui di Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta, Jl Juanda No.28, Jakarta, Senin (22/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risiko sisi inflasi dan nilai tukar masih ada, di Mei inflasi masih tinggi di atas 7 persen, yang lebih berhati-hati adalah nilai tukar, sepanjang tahun ini masih terus depresiasi," ungkap dia.
Di sisi lain, Doddy menjelaskan, sentimen global terkait rencana bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) menaikkan tingkat suku bunganya memungkinkan rupiah tertekan. Belum lagi kondisi Yunani yang terancam bangkrut karena tidak bisa membayar utangnya
"Di sisi lain ekonomi dunia belum ada kepastian, Yunani ada kemungkinan bangkrut, ini semua menyebabkan ketidakpastian, aliran uang ke dalam dan ke luar, jadi nilai tukar kita masih bergejolak, ekonomi dunia belum menentu," jelas dia.
Doddy menambahkan, Indonesia juga tidak bisa terus mengandalkan ekspor komoditas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Mitra dagang Indonesia yaitu Tiongkok juga dalam kondisi melambat.
"Ekspor China melambat, jadi potensi kita mendapatkan valas dari ekspor menyusut terus, suplai dolar kita belum memadai, ini buat rupiah tertekan, di sisi lain risiko inflasi dan nilai tukar tinggi tapi konsumsi di sektor riil perlu didorong, jadi BI cari keseimbangan. Itulah kemudian diputuskan kita pertahankan dulu deh nanti kalau sudah baik akan disesuaikan," pungkasnya.
(drk/dnl)











































