Merger BTN dan BEI, Kebijakan Pemerintah Tak Terkoordinasi
Senin, 21 Feb 2005 10:57 WIB
Jakarta - Rencana pemerintah untuk melakukan merger BTN, BEI dengan BNI, BRI atau Bank Mandiri dinilai sebagai kebijakan yang tidak terkoordinasi. Alasannya, saat ini Indonesia sangat membutuhkan bank yang fokus pada bidang perumahan dan juga ekspor. Hal tersebut disampaikan anggota Komisi XI DPR RI Antony Zedra Abidin disela-sala diskusi Trijaya Network di Hotel Niko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (21/2/2005)."Soal merger BTN dengan bank lain, itu menunjukkan tidak adanya koordinasi karena Menpera menargetkan pembangunan satu juta rumah, menteri keuangan juga berencana mendirikan SMF (secondary mortgage facility). Nah, itu perlu didukung bank yang fokus pada perumahan," papar Antony.Ia menilai, BTN pada tahun 2004 sudah menunjukkan kinerja yang bagus dan tidak lagi rugi. Untuk itu, pemerintah semestinya mendorong bank ini agar lebih maju karena BTN sejak 30 tahun lalu telah sangat fokus untuk menangani KPR. Keberadaan BTN menurut Antony, saat ini sudah dirasakan manfaatnya bagi ribuan orang melalui KPR BTN. "Intinya, BTN jangan dibubarkan. Kalau perlu ditingkatkan modalnya dari yang sekarang baru Rp 1,2 triliun. Caranya bisa saja dengan penyertaan modal seperti dari Jamsostek daripada ditempatkan di bank lain seperti Bank Global," tegasnya.Sedangkan untuk BEI, Antony juga merasa keberadaannya masih diperlukan karena saat ini tidak ada bank lain yang fokus pada pembiayaan ekspor. Ia mencontohkan BNI yang memberikan pembiayaan ekspor melalui L/C (letter of credit) justru kebobolan."BEI didirikan pertama kali kan untuk meningkatkan ekspor. Tapi sayangnya diurus secara tidak benar. Pemerintah tidak ada perhatian yang serius terhadap bank ini," tandasnya.Dicontohkan ketidakseriusan pemerintah bisa ditunjukkan dengan mnempatkan orang-orang yang sudah pensiun untuk duduk dalam jajaran direksi. "Kenapa tidak pula dibuat bussiness plan yang jelas. Kan kita perlu sebuah bank yang fokus pada pembiayaan ekspor," tegasnya. Rencana merger bank BUMN yang belum go public yakni BTN dan BEI dengan bank bank BUMN yang sudah go public ini sebelumnya diungkapkan oleh Meneg BUMN Soegiharto. Ia mengatakan, merger BTN dan BEI akan dilakukan jika kedua bank ini tidak berhasil memenuhi target tahun 2004.
(qom/)











































