"Kalau nelayan pas melaut ada yang kecelakaan, biasanya tergantung cuaca kalau bersahabat ya aman, tapi kalau angin kencang melaut dan tidak punya perhitungan ya kecelakaan dan biasanya kapal kebalik," kata Junaidi, salah satu nelayan Cilacap yang menerima BPJS Ketenagakerjaan, dan diserahkan oleh Jokowi, Selasa (30/6/2015).
Menurut dia, bila terjadi kecelakaan saat di laut yang akan dirugikan adalah keluarga, sehingga anak dan istrinya akan mencari nafkah sendiri. "Kalau kecelakaan di laut ada yang meninggal, istri dan anak cari nafkah sendiri," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya telah mendengarkan program-program dari direktur BPJS, tapi saya tidak tahu berapa batas umur untuk bisa masuk ke BPJS, katanya 55 tahun, saya sudah 60 tahun, kira-kira bisa mendapatkan BPJS apa tidak," katanya.
Dari program yang di berikan BPJS Ketenagakerjaan untuk para nelayan, nantinya nelayan hanya dikenai biaya iuran Rp 6.800 per bulan. Dengan jaminan itu, nantinya nelayan akan mendapatan jaminan kecelakaan dan kematian.
"Kalau melaut kena kecakalaan anak dan istri bingung cari makan. Nah pilih bayar iuran Rp 6.800/ bulan apa tidak ikut BPJS Ketenagakerjaan?" tanya Jokowi.
Selain mendengarkan curhatan nelayan tentang BPJS Ketenagakerjaan, Jokowi juga memberikan 2.500 alat tangkap ramah lingkungan bagi 31 kelompok usaha bersama (KUB) nelayan untuk membantu pekerjaan mereka sehari-hari.
Setelah meresmikan oprasional penuh BPJS Ketenagakerjaan, Jokowi didampingi Iriana, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.
Setelah itu rombongan langsung mengunjungi Pasar Manis, Purwokerto, Banyumas. Di lokasi tersebut, Jokowi rencananya akan meluncurkan program 100 pasar rakyat.
Presiden akan menuju Kantor Kelurahan Pasir Kidul untuk memberikan Kartu Indoesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), dan Kartu Asistensi Sosial (KAS).
(arb/dnl)










































