Presiden Direktur PNM Parman Nataatmadja menuturkan, kredit bagi pedagang-pedagang pasar akan diperluas di Pulau Jawa, terutama Jakarta.
"Jadi selama ini kredit pedagang pasar kita sejak 2 tahun lalu hanya bergerak di Bali. Makanya kita buat pilot project di pasar-pasar tradisional di Jakarta dulu yang dikelola perusahaan daerah, baru kalau berhasil ke daerah lainnya," kata Parman ditemui di kantornya, di Gedung Arthaloka, Jakarta, Senin (6/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kredit buat pedagang baru sampai dia jualan. Atau yang butuh tambahan modal, kaya pedagang-pedagang sayur. Kredit paling tinggi plafonnya 10 juta untuk pedagang, di Jakarta kira ada 3 yang kita sudah riset, yang sudah pasti di Pasar Kebayoran Lama," kata Parman.
Sementara untuk bunga, lanjutnya, sangat bervariatif, antara 30-40 persen per tahun. Bunganya tinggi karena pinjamannya yang rendah dan jangka waktu singkat.
"Karena mereka pinjam hanya batas antara 1-3 bulan saja," ujarnya.
Perluasan kredit pasar ini, diakuinya, untuk menekan praktik tengkulak yang ada di pasar-pasar tradisional.
"Kita kan berpengalaman di 52 pasar di Bali. Di sana tahun ini malah kita tambah 5 pasar lagi dan sudah salurkan kredit Rp 10 miliar tahun ini dengan rata-rata pinjaman Rp 3 juta," kata Parman.
Kendati semua nasabahnya adalah pedagang kecil, menurut Parman, pihaknya bisa menjaga kredit macet atau NPL hingga 0% di sektor mikro ini.
"Bagus (NPL), karena kita kan tagihannya harian yang pedagang pasar. Nasabah juga loyal, dan saingan kita bukan bank, tapi tengkulak, ini cara kita membatasi tengkulak," tambahnya.
(ang/ang)











































