Sehingga, BSM mengelola sekitar Rp 17-19 triliun. Hal ini membuat likuditas anak usaha PT Bank Mandiri Tbk itu melimpah.
"Dana haji di kalangan perbankan syariah, besarannya BSM paling besar kelola. Kemenag kelola dana Rp 74-80 triliun. BSM kelola 22-23%. Itu membuat likuditas bisa dikelola," kata Direktur Utama BSM Agus Sudiarto saat buka puasa bersama di Jakarta, Selasa (7/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin akan terjadi pengurangan penempatan dana ke bank syariah. Belum tentu juga akan berkurang, sebab jumlah jemaah haji tiap tahun naik," ujarnya.
"Konsekuensinya lembaga pengelola dengan pembiayaan akan berbeda. Dana bisa ditempatkan selain di perbankan syariah. Bisa di surat berharga seperti sukuk. BPKH pun nantinya bisa investasikan dana haji untuk beli hotel atau rumah sakit di Mekkah atau Madinah," ujarnya.
BSM sudah menyalurkan pembiayaan Rp 50,4 triliun sampai akhir Juni. Pembiayaan ini disalurkan ke beberapa sektor, seperti rumah sakit, perguruan tinggi, logistik, dan perkebunan seperti sawit.
"Nasabah kita 18 juta, hampir sama dengan penduduk Malaysia. Tapi kita belum puas dengan asset yang kita punya," ujarnya.
Direktur Finance Strategy BSM, Agus Dwi Handaya, tercatat sampai Juni 2015 total asset BSM Rp 67 triliun, year on year Rp 4,2 triliun atau tumbuh 7% per tahun.
Sementara pangsa pasarnya mencapai 24,8% dengan jumlah dana pihak ketiga Rp 59,2 triliun. Dana murah BSM Rp 28,7 triliun tumbuh 10,5% per tahun atau sebesar Rp 2,7 triliun.
"Pembiayaan Rp 50,4 triliun, tumbuh Rp 1,3 triliun year to date. Kondisi market memang ada slowing down," ujarnya.
BSM membidik aset di akhir tahun 2015 mencapai Rp 72-75 triliun. Sedangkan untuk pembiayaan bisa mencapai Rp 52-54 triliun, tumbuh 10-12%.
"Pertumbuhan ini memang melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semoga kondisi makro makin jelas dan bergerak ke arah yang jelas," tambahnya.
(ang/dnl)











































