Schneider Siahaan, Direktur Strategis dan Portfolio Utang, Ditjen Pembiayaan dan Pengeloaan Risiko (DJP2R) Kementerian Keuangan menjelaskan, dana yang tersimpan di China diketahui cukup besar. Sehingga China pun menjadi sasaran pemerintah.
"Nah sebetulnya sasaran kita itu adalah China ini, kan katanya informasinya dananya besar. Nah kita harapkan sih bisa memanfaaatkan juga dana dari pemerintah China," ungkapnya kepada detikFinance, pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harapkan sih, kita punya engagement itu dengan pihak yang cukup besar (seperti China). Sehingga kebutuhan kita kan besar juga bisa terpenuhi," terangnya.
Schneider menambahkan, Bank Sentral China memang belum pernah terlibat dalam pembelian SUN. Bahkan yang cukup aktif adalah Bank Sentral Timur Tengah, Eropam dan beberapa negara lainnya untuk fund long term atau jangka panjang. Nilainya mencapai Rp 102,3 triliun pada posisi 7 Juli 2015.
"Sekarang kita coba peluang untuk mereka (China) langsung mendanai lewat SUN," ujarnya
Menurut Schneider, Indonesia tidak bisa hanya bergantung dengan investor yang sudah ada. Sehingga harus diperluas, khususnya dengan skema bilateral.
"Jadi makin banyak investor kami itu artinya kami makin diuntungkan. Kami makin berkurang ketergantungan ke satu pihak. Kedua, pendanaan yang besar itu bisa tercover, jadi makin banyak itu makin besar kemampuan kita untuk mendanai," papar Schneider.
"Kemudian yang ketiga adalah pricing harga pinjaman itu jadi lebih baik, karena ada kompetisinya di antara sesama investor. Jadi dibilang sangat penting secara strategis," tukasnya.
(mkl/ang)











































