Menurut Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo, pinjaman dari negeri tirai bambu itu masih dibahas dengan Kementerian BUMN. Pembahasan memasuki penentuan besaran bunga yang bakal diberikan CDB.
"Kalau amount kita sudah diskusikan besarannya US$ 1 miliar per bank untuk 3 bank BUMN kecuali BTN. Ratenya ini yang masih belum ketemu, tapi diharapkan kita bisa segera finalisasi berikan final rate ke CDB," kata Haru di Kantor Pusat BRI, Gedung BRI I, Jakarta, Senin (13/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita beri finalnya bulan ini. Ekspektasi kita (bunga) sesuai pasar," ujarnya.
Pinjaman tersebut nantinya berbentuk valuta asing yakni dolar Amerika Serikat (AS) dan China Yuang Renminbi (RMB).
"Jadi porsi 70% pakai dolar AS dan 30% pakai Renminbi," sebutnya.
Pinjaman tersebut, kata Haru, akan dialokasikan untuk membiayai proyek infrastruktur baru yang menjadi prioritas pemerintah seperti kereta Light Rail Transit (LRT), pelabuhan, hingga jalan tol.
"Ketiga proyek yang dibiayai beda-beda. Salah satunya adalah LRT. Nanti lead-nya beda-beda. Nanti juga biayai toll road sama pelabuhan," sebutnya.
(feb/ang)










































