Lesunya perekonomian Indonesia ikut berdampak pada kenaikan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) PT Bank Danamon Tbk (BDMN).
NPL bank asal Singapura ini naik dari 2,1% pada semester I menjadi 2,9% pada semester II. Angka NPL ini melebihi rata-rata NPL industri perbankan nasional yang hanya mencapai 2,46%.
"Keseluruhan akhir tahun NPL tergantung kondisi perekonomian. Namun Danamon akan meningkatkan kemampuannya dalam collection kredit. Jadi keseluruhan mudah-mudahan kita bisa jaga," ujar Vera Eva Lim ditemui di Menara Danamon, Selasa (28/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski rasio kredit bermasalah membesar, Vera mengatakan, dengan asumsi perekonomian yang membaik, perseroan memprediksi angka pertumbuhan kredit Danamon akan terus meningkat.
"Sampai akhir tahun ini kita jaga (NPL) di bawah 3%," tegasnya.
Meningkatnya rasio kredit bermasalah tersebut, lanjut Vera, salah satu kontribusi terbesar disumbangkan kredit sektor pertambangan, terutama alat berat.
"Ini kan sudah kita cermati sektor mining ini. Dan kita lihat trennya memang memburuk sejak 2 tahun belakangan. Mudah-mudahan bisa kita jaga," kata Vera.
Dia mengungkapkan, hingga penutupan semester I 2015, Danamon telah menyalurkan kredit sebanyak Rp 136,27 triliun, atau turun 3% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 140,64 triliun.
"Secara keseluruhan kami memprediksi pertumbuhan kredit akan flat, paling tidak 1 persen saja hingga akhir tahun," jelasnya.
Selain itu, Danamon juga berhasil menghimpun dana giro dan tabungan sebesar Rp 55,2 triliun, meningkat 13% dibandingkan dengan jumlah dana pihak ketiga (DPK) semester I-2014 sebesar Rp 48,8 triliun.
(ang/ang)











































