Semester I 2005
Rupiah Diprediksi Masih Labil
Rabu, 23 Feb 2005 16:57 WIB
Jakarta - Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memperkirakan, pada semester I-2005 posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap labil dan dapat melemah ke Rp 9.400 per dolar AS. Namun sebaliknya di semester II-2005 rupiah berpotensi menguat kembali ke Rp 8.600 per dolar AS pada akhir tahun 2005. Menurut Fauzi, faktor-faktor yang membuat rupiah tetap labih pada semester I-2005 adalah pertama, karena ketidakpastian atas dampak sosial politik terhadap kenaikan harga BBM . Kedua, masih tingginya impor yang dilakukan oleh Pertamina dan PLN yang membuat kebutuhan akan valas cukup tinggi. Ketiga, mengecilnya perbedaan antara suku bunga dolar AS dan rupiah serta keempat, program privatisasi pemerintah yang agak tersendat. Sedangkan faktor yang akan membuat rupiah menguat pada semester II-2005 hingga Rp 8.600 pada akhir tahun ini, karena mulai masuknya bantuan internasional pasca tsunami yang diperkirakan mencapai US$ 5,1 miliar. Adanya penjadawalan kembali utang luar negeri pemerintah melalui Forum Paris Club sebesar US$ 4,5 miliar serta adanya kenaikan investasi asing. Demikian diungkapkan oleh Fauzi Ichsan ekonom yang juga Vice President Standard Chartered Bank disela acara peluncuran reksa dana Dana Investasi Bersama (DIB) yang dikeluarkan oleh PT Danareksa Investment Management (DIM), di Four Seasson Hotel Kuningan Jakarta, Rabu (23/2/2005). Fauzi juga menjelaskan, pada semester I-2005 Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 bulan hingga ke level 7,65 persen. Sedangkan pada lelang SBI terakhir 16 Februari 2005 ada di level 7,43 persen atau naik 0,01 persen dibandingkan lelang sebelumnya sebesar 7,42 persen. Menurut Fauzi, naiknya SBI pada semester I-2005 ini karena BI harus menjaga melonjaknya inflasi akibat dari rencana kenaikan harga BBM, naiknya suku bunga dolar AS oleh The Fed dan labilnya kurs rupiah. Namun untuk semester II-2005, suku bunga SBI 1 bulan diperkirakan akan turun hingga ke 7,5 persen seiring dengan menguatnya rupiah pada jangka waktu tersebut. Selain itu juga dampak kenaikan BBM yang sudah hilang yang membuat inflasi turun lagi. Disisi lain sektor perbankan mengalami ekses likuiditas yang diperkirakan mencapai Rp 10-Rp 15 triliun. "Selama rupiah tidak melemah ke level Rp 10.000 per dolar AS, BI diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga SBI secara tajam," kata Fauzi. Untuk tingkat yield (imbal hasil) surat utang negara (SUN) Fauzi memperkirakan, bunga SUN cenderung turun hingga akhir tahun 2005. Dimana yield SUN untuk jangka waktu lima tahun diperkirakan akan turun 10,1 persen pada akhir tahun 2004 menjadi 9 persen pada akhir tahun 2005. Akibatnya perbedaan antara suku bunga jangka pendek dan jangka panjang akan terus mengecil (flattening of the yield curve). Menurutnya, kenaikan yield SUN tahun 2005 mulai terbatas karena, perbankan tetap melihat SUN sebagai investasi yang amandanmasih berhati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor korporasi. Membaiknya stabilitas politik, membuat reksa dana dan dana pensiun mulai mengalihkan investasinya dari deposito dan SBI ke SUN, obligasi korporasi dan saham. Akibat meningkatnya pembelian SUN juga berdampak pada kenaikan harga SUN yang membaut bunga SUN justru turun. Sedangkan untuk pasar saham, Fauzi memperkirakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih akan mengalami kenaikan pada tahun ini karena mulai membaiknya performa ekonomi Indonesia dan masuknya aliran dana asing. Sampai akhir tahun 2005, Fauzi memperkirakan IHSG dapat tembus ke level 1.250 dibandingkan akhir tahun 2004 yang di level 1000,2.
(qom/)











































