Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 13.531, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin Rp 13.422 per dolar AS.
Perlahan namun pasti, kinerja rupiah terus merosot. Apa penyebabnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh belum ada kepastian soal kenaikan bunga acuan tersebut, rupiah akan terus berfluktuasi. Kondisi ini dinilai wajar, di mana ekonomi AS sangat berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi dunia lainnya.
"Semua orang pasti merespons soal The Fed, itu wajar kalau pun rupiah melemah," katanya kepda detikFinance, Jumat (31/7/2015).
Satrio menjelaskan, sejauh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak gradual atau perlahan, pelemahannya tidak akan membuat kaget pasar. Dia melihat, dolar AS ini akan terus menguat ke level Rp 13.700, hingga suku bunga dinaikkan yang diperkirakan banyak analis September 2015.
"Selama pergerakannya gradual, perlahan, tidak volatile itu masih normal, selama belum pasti, posisi bisa ke Rp 13.500-Rp 13.700," katanya.
Di sisi lain, pergerakan IHSG mulai menunjukkan perbaikan. Investor pasar modal berfokus pada rilis pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2015. Para investor optimistis, pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini lebih baik dari kuartal sebelumnya.
"Pelaku pasar modal fokusnya ke pertumbuhan ekonomi. Pak Bambang (Menkeu) kemarin kan bilang 4,9%, nah itu kita optimistis, makanya IHSG mulai rebound," ucap dia.
Satrio menambahkan, dalam jangka pendek gerak IHSG akan berada dalam tren naik di posisi 4.800-4.825. Jika pertumbuhan ekonomi membaik, IHSG bisa terus melonjak hingga ke level 4.500-5.650 di akhir tahun.
"Tren jangka pendek naik, jangka panjang memang ekspektasinya rebound," pungkasnya.
(drk/dnl)











































