BI Nilai Risiko Kredit Bank Mandiri Tinggi
Rabu, 23 Feb 2005 18:55 WIB
Jakarta - Bank Mandiri dinilai ceroboh dalam memberikan kredit korporasi, sehingga membuat negara harus menyuntik obligasi rekap sebesar Rp 178 triliun dari jumlah awal Rp 183 triliun.Jumlah tersebut berkurang setelah adanya pengembalian Rp 5 triliun, dan bond swap Rp 10,6 triliun.Hal ini disampaikan anggota Komisi XI DPR Dradjat Wibowo saat rapat dengar pendapat dengan Bank Mandiri di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (23/2/2005).Lebih lanjut, Dradjat menyatakan, risiko kredit Bank Mandiri diberi predikat tinggi oleh Bank Indonesia, dengan risiko operasionalnya memiliki predikat moderat cenderung tinggi. Tingginya risiko kredit antara lain karena jumlah kredit korporasi masih di atas lima puluh persen dari total kredit dan sebagian dalam proses restrukturisasi.Sementara risk control system Bank Mandiri dinilai BI tergolong lemah. Di sisi lain, kebijakan restruktutrisasi kredit Bank Mandiri belum komprehensif yang menggambarkan langlah-langkah mitigasi yang efektif. Ini tercermin dari restrukturisasi kredit korposari yang berulang-ulang, seperti dalam kasus PT Mahakam Eka Graha, PT Batam Tekstil Indutsri, dan PT Bina Citra Kharisman Lestari.Pemberian grace periode yang relatif panjang terhadap kredit yang direstrukturisasi, yaitu PT Sumber Mitra Wisata Graha dan PT A Latif Nusakarya. Akibatnya, gambaran kualitas kredit restrukturisasi Bank Mandiri kurang mencerminkan tingkat risiko kredit yang sebenarnya. Menurut Drajat, Bank Mandiri juga dikenai kewajiban untuk memenuhi rasio secondary receive minimal 12 persen dari total aset. Ternyata hal tersebut belum dipenuhi oleh Bank Mandiri.Ironisnya, Bank Mandiri tetap memasang target pertumbuhan kredit korporasi yang ekspansif. Bahkan, Bank Mandiri tidak konsisten dengan kebijakannya sendiri, di mana Bank Mandiri tetap memberikan kredit kepada beberapa debitur dari sub sektor ekonomi yang dalam kebijakan Bank Mandiri direkomendasikan untuk tidak dibiayai, karena berpotensi risiko tinggi. "Contohnya, perkayuan dan perhotelan," katanya."Sebagai contoh betapa parahnya tingkat kecerobohan pemberian kredit korporasi Bank Mandiri, saya beri contoh kredit Great River Internasional. Realisasi pencairan dari GRI terdiri dari satu kredit investasi, pengambilalihan dari Danamon sebesar Rp 40 miliar, KMK Resourcing, 9,8 juta US dollar, dan KMK Rp 61,2 milyar. Ini pengambilan dari Nikko Securities, Antaboga Sekuritas, Asuransi Jiwa Sraya dan Bank CIC," paparnya.
(jon/)











































