Faktor utama yang menjadi penyumbang laba bersih Bank BJB berasal dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh sebesar 10%, dari Rp 2,1 triliun menjadi Rp 2,3 triliun.
"Juga adanya credit recovery program yang berhasil menurunkan NPL (non performing loan) menjadi sebesar 3.6%," kata Direktur Utama Bank BJB Ahmad Irfan, dalam siaran pers, Jumat (7/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komposisi kredit konsumer masih mendominasi hingga mencapai 69% dari total kredit," ujarnya.
Perseroan mencatat pertumbuhan kredit konsumer 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara komposisi, kredit komersial punya porsi 14,54% atau senilai Rp 7,59 triliun, kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 8,62% senilai Rp 4,50 triliun, dan kredit mikro sebesar 7,53% senilai Rp 3,92 triliun.
Pertumbuhan kredit secara konsolidasi perseroan mencapai 11% atau berada di atas pertumbuhan kredit perbankan yang hanya tumbuh 10,5%. Dalam urusan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), bank milik pemda ini mampu membukukan Rp 82,7 triliun atau naik 32,4%, sehingga turut berkontribusi terhadap total aset perseroan.
Per 30 Juni 2015 lalu, total aset Bank BJB mengalami kenaikan sebesar 22,1% hingga mencapai Rp 95,9 triliun. Seiring dengan itu, Perseroan pun mencatatkan kenaikan laba bersih mencapai 21,8% (yoy) dengan nilai sebesar Rp 582 miliar.
(ang/ang)











































