Ekonomi Lesu, Premi Asuransi Diprediksi Tumbuh 30% Jadi Rp 158 T

Ekonomi Lesu, Premi Asuransi Diprediksi Tumbuh 30% Jadi Rp 158 T

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 14 Agu 2015 12:59 WIB
Ekonomi Lesu, Premi Asuransi Diprediksi Tumbuh 30% Jadi Rp 158 T
Jakarta - Meskipun perekonomian tengah melambat, namun bisnis asuransi dinilai masih potensial. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menargetkan bisa meraup kenaikan premi sebesar 20-30% hingga akhir tahun ini atau sekitar Rp 158,106 triliun. Sepanjang tahun lalu, pendapatan premi tercatat sebesar Rp 121,62 triliun.

"Kita di industri ini punya target akhir tahun, agen 500 ribu, aset Rp 500 triliun, saat ini baru sekitar Rp 400 triliun, premi naik 20-30% sampai akhir tahun," kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim saat konferensi pers di Gedung AAJI, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Dia menjelaskan, meskipun terjadi perlambatan ekonomi, permintaan premi asuransi masih tetap tumbuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, Hendrisman mengatakan, akan melakukan berbagai antisipasi untuk menyikapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Sampai Juli, terjadi perlambatan ekonomi premi asuransi tetap growing dibanding periode yang sama tahun lalu, tapi semakin kesini kita lihat nyatanya ekonomi semakin melambat, IHSG 4.400, dolar AS hampir Rp 14.000, itu kita sedang kaji apa dampaknya bagi asuransi, kalau sampai dolar AS Rp 14.000-15.000, mungkin ada dampaknya, kita sedang analisa, nanti kita lihat kinerja Agustus," jelas dia.

Hendrisman melihat, jika kondisi perekonomian tidak kunjung membaik, akan terjadi penurunan daya beli di industri asuransi.

"Dampaknya penurunan daya beli, ini sudah mulai penjualan agak susah," katanya.

Di samping itu, menanggapi penguatan dolar AS, para nasabah asuransi mulai melakukan aksi jual terhadap polis asuransinya yang berdenominasi dolar AS.

"Kita lihat bahwa nilai tebus kita cukup tinggi, terjadi untuk polis dolar, direedem karena harga dolar tinggi, tapi di sisi lain, premi baru meningkat, nyatanya kenapa tebus? Ada kesempatan dolar tinggi, mereka mungkin berpikir lebih menguntungkan," paparnya.

Meski demikian, Hendrisman menambahkan, hingga Juli 2015, Risk Based Capital (RBC) masih terjaga dengan baik.

"Sampai Juli belum terganggu, RBC belum terganggu, semua harus bersikap, kita coba tetap menjalankan penjualan, produk-produk apa yang bisa dijual seperti kondisi ini," imbuh Hendrisman.



(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads