Menurutnya, langkah ini perlu diambil untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah desakan sentimen negatif dari luar negeri. Ia khawatir, bila BI Rate diturunkan saat ini maka rupiah akan semakin loyo berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS) dan yuan.
"Kita berharap ya diturunkan karena itu (7,5%) kan tinggi. Tapi kita juga menyadari kalau itu (BI Rate) turun nanti sinyalnya ditangkap pasar akan beda. Begitu dia turun, rupiah akan semakin nggak karuan karena sekarang saja sudah begini," terang dia ditemui di Gedung Permata Kuningan, Jakarta, Selasa (18/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, dia juga berharap kondisi ekonomi kembali normal di tengah buruknya kondisi makro saat ini. Terlebih lagi kondisi regional juga sedang memburuk lantaran ekonomi Jepang tengah mengalami kontraksi, ada insiden bom di Thailand serta kondisi perpolitikan Malaysia.
"Ini kan di regionalnya sendiri saja ada banyak masalah. Perlu perkuatan fundamental di dalam negeri yang bisa kita lakukan. Bagaimana mengendalikan impor lalu bagaimana mendorong upaya ekspor terutama dalam kaitan perjanjian multilateral dan bilateral," tandasnya.
(dna/ang)











































