"Dari Rp 30 triliun, kami targetnya Rp 21 triliun, terdiri atas Rp 4 triliun KUR ritel, Rp 17 triliun KUR mikro, kami sudah mulai," kata Wakil Direktur Utama BRI, Sunarso, saat ditemui di Hotel Millenium, Jakarta, akhir pekan lalu.
Bisnis di sektor UKM ini, menurut Sunarso, masih menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sunarso, bisnis kredit UKM seperti KUR ini sangat erat kaitannya dengan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia.
"Kaitannya sangat dekat dengan perut kita, makanan, warung makan, minuman, transportasi di daerah-daerah, saya pikir ini kan tetap bergerak, jadi mungkin pertumbuhan bisa didorong lewat situ, jadi alasannya KUR itu strategis," paparnya.
"Untuk memenuhi kebutuhan domestik selama masih ada permintaan, selama 250 juta masyarakat Indonesia ini butuh makan maka sektor-sektor yang dilayani segmen mikro ini masih akan menjadi pendorong ekonomi yang efektif dan dengan didorong belanja pemerintah," kata dia.
Sunarso menyebutkan, saat ini bunga KUR adalah 12% per tahun, turun dari sebelumnya 21%, karena ada subsidi bunga 7% dari pemerintah. Jadi secara bisnis, BRI masih menerima bunga 19% untuk KUR.
Selama ini, kata dia, penyaluran KUR paling banyak di Jawa, seperti DKI Jakarta, Jabar, Jateng, dan Jatim. Selain itu juga menyasar wilayah Sumatera dan Sulawesi. Sektor yang menjadi prioritas adalah pertanian, perikanan dan kelautan, atau perdagangan dan pengolahan yang terkait sektor tersebut.
"Nah Kalimantan juga harus menjadi perhatian, selama ini produk domestiknya didorong komoditas, bisa jadi sekarang negatif karena harga komoditas turun, barangkali ini yang harus disubstitusi dengan pangan melalui mikro jadi KUR bisa menyasar ke Kalimantan," sebut Sunarso.
(drk/dnl)











































