Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 26 Agu 2015 13:25 WIB

'Pak Agus, Bagaimana Agar Rupiah Tidak Terus-terusan Turun?'

Lani Pujiastuti - detikFinance
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo siang ini bercerita soal nilai tukar rupiah di hadapan ratusan pelajar SMP Pangudi Luhur, Jakarta Selatan. Salah satu siswa bernama Brian bertanya kapan rupiah bisa kembali normal.

Sebab saat ini dolar Amerika Serikat (AS) sudah mencapai Rp 14.000. Ini berarti rupiah sudah undervalued alias nilainya terlalu rendah.

"Kan sekarang dolar naik, rupiah turun. Apa langkah konkret yang bisa Bank Indonesia lakukan supaya rupiah tidak terus-terusan turun?" tanya Brian kepada Agus, Rabu (26/8/2015).

"Supaya dolar dan rupiah harmonis, adik-adik, tiga tahun terakhir sedang ada krisis ekonomi di dunia. Krisis di Tiongkok karena ekonomi melemah, harga komoditi andalan Indonesia melemah dan ada ekonomi Amerika membaik setelah krisis jadi mau naikkan suku bunga," jawab Agus.

Agus menambahkan, saat ini Indonesia juga masih banyak lakukan impor sehingga pasokan dolar AS di dalam negeri dibawa ke luar Indonesia. Sehingga pasokan di pasar keuangan valuta asing(valas) Indonesia menjadi tipis sekali.

"Langsung kena dampak gejolak mata uang asing. Jadi adik-adik yang kita mesti jaga adalah kita jangan terlalu tergantung pada impor. Kita harus bisa ekspor. Jangan mengandalkan eskpor bahan mentah saja. Itu tidak memberi nilai dampak ekonomi. Kita harus bisa buat bahan mentah jadi barang jadi baru diekspor," ujarnya.

Agus juga meminta seluruh rakyat Indonesia berupaya, supaya transaksi keuangan di dalam negeri lebih baik. Sehingga Indonesia bisa siap-siap menghadapi gejolak ekonomi dunia.

"Yang saya tanya ke Bapak, apa tindakan konkretnya?" Brian kembali bertanya.

"Bank Indonesia harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Otoritas moneter harus bekerjasama dengan fiskal dan riil. BI keluarkan kebijakan moneter yang tepat," jawab Agus.

"Kita harus meyakinkan, kalau pun impor lebih besar dari ekspor tidak lebih dari dua setengah dari besaran ekonomi negara kita. Indonesia harus menjaga kondisi pasar valuta asing supaya gerakannya tidak menakutkan dan selalu menjaga cadangan devisa. BI juga menjaga agar utang dunia usaha terjaga," tambah Agus.

Agus mengatakan, BI juga sudah keluarkan kebijakan mewajibkan masyarakat Indonesia gunakan rupiah untuk transaksi di dalam negeri, tidak boleh lagi menggunakan dolar AS.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed