Rapat 2 Jam dengan Jokowi, Agus Marto Paparkan Kondisi Ekonomi Terkini

Rapat 2 Jam dengan Jokowi, Agus Marto Paparkan Kondisi Ekonomi Terkini

Maikel Jefriando - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2015 14:15 WIB
Rapat 2 Jam dengan Jokowi, Agus Marto Paparkan Kondisi Ekonomi Terkini
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara, Jakarta siang tadi. Agus diminta menjelaskan kondisi perekonomian terkini.

Agus datang sekitar pukul 10.30 WIB, meski pertemuan baru dimulai 30 menit kemudian. Sementara bersama Jokowi, juga hadir Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

"Kami diminta untuk menyampaikan perkembangan ekonomi moneter dan update sisi moneter dan fiskal, dan beliau menjadi up to date," ungkap Agus, saat meninggalkan Istana Negara, sekitar pukul 13.10 WIBโ€Ž, Kamis (27/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus menjelaskan, perkembangan terakhir ekonomi dunia memang masih bergejolak. Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The) Fed akan menaikkan tingkat bunga, dan China melakukan devaluasi atas mata uangnya, yaitu yuan, termasuk pemangkasan suku bunga menjadi 4,6%.

"Dan itu berdampak kepada Indonesia," imbuhnya.

Berbagai koordinasi antara pemerintah dan BI masih terus berjalan untuk memantau setiap perkembangan. Begitu juga dengan Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), yang melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Kami jelaskan bahwa satu lembaga dengan yang lain dilakukan sinergi yang baik. Sehingga akan tepat waktu dan terukur," ujarnya.

Kepada Jokowi, Agus juga menyampaikan berbagai langkah yang telah dilakukan olehโ€Ž BI, untuk menjaga inflasi tahun ini pada target 4,5% plus minus 1%, transaksi berjalan dengan defisit yang lebih rendah, dan mendorong penggunaan rupiah di dalam negeri.

"BI akan terus menerbitkan makro prudensial, untuk meyakini makro ekonomi akan dijaga tetap stabil tapi pertumbuhan kredit harus bisa berjalan, supaya pembiyaaan bisa efisien," kata Agus.

"Tapi dijelaskan implementasi juga untuk mengelola utang luar negeri, dunia usaha supaya bisa hati-hati dan tidak ada risiko nilai tukar yang bisa menjadi ancaman bagi perusahaan. Kami juga jelaskan satu kebijakan BI untuk antisipasi menjaga di pasar valas untuk dalam batas yang sehat," tukasnya.

(mkl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads