Bank RI Tahan Hadapi Dolar Rp 14.000, Tapi Kredit Hanya Tumbuh 13%

Bank RI Tahan Hadapi Dolar Rp 14.000, Tapi Kredit Hanya Tumbuh 13%

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 31 Agu 2015 18:48 WIB
Jakarta - Sektor perbankan di Indonesia masih kuat menghadapi dolar Rp 14.000 yang terjadi saat ini. Namun yang harus diwaspadai di tengah kondisi perlambatan ekonomi adalah, kenaikan kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D. Hadad mengatakan, dia melihat daya tahan industri perbankan saat ini masih kuat.

"Masih oke, perbankan itu istilahnya concern pokoknya bukan kepada rupiah atau indeks (saham). Saya malah fokusnya pada NPL. Jadi mudah-mudahan lah, jadi NPL masih kecil (gross) 2,5%, nett 1,5%. Jadi saya pikir masih sangat kuat. Mudah-mudahan daya tahan industri perbankan masih cukup. Kalau potensi ke depan, nanti kita lihat bareng-bareng," ujar Muliaman di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (31/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal pertumbuhan kredit bank, Muliaman mengatakan, tahun ini pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia rata-rata adalah 12-13%.

"Jadi menurut saya, 13% bisa tercapai sudah luar biasa. Jadi mungkin antara 12-13% lah. Saya akan terus pantau. Tapi kan berbagai paket kebijakan OJK kemarin kan memberikan ruangan yang cukup longgar, terutama kredit kepada UMKM," jelas Muliaman.

Pada kondisi saat ini, kredit bank ke sektor UMKM menjadi primadona. Sektor UMKM ini yang bisa menggerakan perekonomian di saat perlambatan ekonomi tejadi. Bahkan, kredit ke sektor ini pertumbuhannya lebih tinggi dari pertumbuhan kredit secara nasional

"Pertumbuhan kredit mikro pada beberapa bank BUMN lebih tinggi dari kredit umum. Jadi saya pikir pada tingkat bawah masih ada kegiatan. Maka dari itu, fokus kita ke UMKM pas, jadi akan kita teruskan," ungkapnya.

(dnl/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads