Lagarde menampik bahwa kedatangannya ke Indonesia terkait soal pinjaman atau utang. Ia merasa, nama IMF selalu dikaitkan dengan utang, padahal tidak demikian.
"Kita sering dikaitkan dengan pinjaman dalam situasi yang mengerikan," ungkapnya saat ditemui di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memiliki pengawasan. Kami memberikan penilaian. Ketika saya berbicara dengan 188 anggota kami, saya mendapat banyak kritikan, dan kami harus merespons apa yang mereka butuhkan," kata Lagarde.
Terkait dengan situasi perekonomian global saat ini, menurut Lagarde, seperti negara berkembang lainnya, Indonesia perlu mencermati beberapa hal, di antaranya penurunan pertumbuhan perekonomian China, perlambatan perekonomian global, dan membaiknya pertumbuhan Amerika Serikat (AS).
"Semua itu akan berdampak pada perekonomian negara lain, termasuk Indonesia, dan Indonesia harus mengantisipasi berbagai proses perubahan ini," jelasnya.
Ia menambahkan, Indonesia mempunyai pengalaman yang cukup dalam menghadapi krisis ekonomi.
"Seperti yang terjadi pada tahun 2013. Saat ini laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah mengalami penurunan sampai di bawah 5%. Namun, ini tidak berlangsung permanen, asal Indonesia membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru," katanya.
(drk/hen)











































