Tiga Penyebab Guncangnya Ekonomi Dunia Versi Agus Marto

Tiga Penyebab Guncangnya Ekonomi Dunia Versi Agus Marto

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2015 10:25 WIB
Tiga Penyebab Guncangnya Ekonomi Dunia Versi Agus Marto
Ilustrasi (Foto: dok.detikFinance)
Jakarta - Bank Indonesia (BI) hari ini menggelar seminar bersama International Monetary Fund (IMF) di komplek BI. Gubernur BI Agus Martowardojo berkesempatan untuk membuka acara.

Dalam pidatonya, Agus menyebut saat ini ekonomi dunia sedang bergejolak. Imbasnya terasa sampai di Indonesia.

"Kita mengetahui perekonomian dunia sedang tidak berada dalam kondisi yang baik. Ekonomi Asia mengalami banyak tantangan," kata Agus, Rabu (2/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Agus, setidaknya ada tiga hal yang membuat ekonomi dunia terguncang seperti sekarang ini. Pertama, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang didorong oleh masalah ekonomi di Uni Eropa dan Jepang serta rencana The Federal Reserve (Thed Fed) naikkan suku bunga.

"Di samping itu juga ada pelemahan harga komoditas, dan pilihan China untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan ‎menggunakan kebijakan moneter," ujarnya.

Agus mengatakan, selama ini Asia cukup tangguh untuk memimpin pertumbuhan global dalam 30 tahun terakhir. Sekarang, ekonomi Asia mulai melambat.

"Kondisi sekarang terjadi kerentanan pada pasar keuangan. Ini tentunya harus dapat diatasi dengan kebijakan yang tepat. Stabilitas pertumbuhan menjadi seakan-akan sebuah keharusan. Ekonomi yang moderat dirasa sangat krusial untuk terus melaju," kata Agus.

Agus mengatakan, ekonomi Indonesia sudah melambat sejak 2013 mengikuti perlambatan ekonomi dunia. Tugas BI menjaga kebijakan moneter tetap baik selama ekonomi melambat.

"Fundamental ekonomi terus dijaga dengan baik, melalui perbaikan defisit transaksi berjalan, menjaga neraca perdagangan yang surplus, dan inflasi yang ditargetkan 4 plus minus 1 pada 2015," ucapnya.

"Stabilitas sektor keuangan harus dijaga dalam kondisi yang solid. Baik melalui sistem perbankan dan pasar keuangan. Untuk mendukung stabilitas itu, BI setia dengan kebijakan makro prudensial‎," katanya.

Bank sentral, kata Agus, selalu ada di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Rupiah yang sepanjang tahun ini sudah melemah 12% harus tetap dijaga fundamentalnya.

"BI juga selalu berada di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah dapat sesuai dengan fundamentalnya," jelasnya.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Agus, daya beli harus dijaga sebagai penopang ekonomi. Menurut Agus, perlu ada upaya untuk melakukan reformasi ekonomi.‎

"Mendorong pembangunan infrastruktur sangat penting. Baik untuk transportasi, telekomunikasi, dan sanitasi," katanya.

"Pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah menyiapkan konsep bernama tol laut untuk mengintegrasikan semua daerah yang ada di Indonesia. Ini sekaligus akan bisa meningkatkan daya saing, dan efisiensi," tambahnya.

Melengkapi konsep itu, lanjut Agus, pemerintah akan memperkuat sisi pelabuhan hingga membangun pembangkit listrik 35.000 mw.

"Pemerintah berkomitmen untuk reformasi subsidi. Dengan dicabutnya BBM, maka pemerintah memiliki ruang fiskal untuk dialokasikan ke sektor lain. Seperti pembangunan infrastruktur dan memberikan insentif untuk mendorong investasi di dalam negeri," tutupnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads