IMF: 350 Juta Orang Asia Hidup Dalam Kemiskinan

IMF: 350 Juta Orang Asia Hidup Dalam Kemiskinan

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2015 14:54 WIB
IMF: 350 Juta Orang Asia Hidup Dalam Kemiskinan
Foto: Christine Lagarde
Jakarta - Financial inclusion atau pendalaman akses keuangan perlu disebar ke setiap pelosok Indonesia agar pemerataan bisa terpenuhi. Akibat tidak meratanya akses keuangan, banyak masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Managing Director International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde menyebutkan, inklusi keuangan mewakili sisi pembangunan manusia.

Saat ini, hampir 350 juta orang Asia masih hidup dalam kemiskinan. Kebanyakan tidak memiliki rekening bank. Banyak perusahaan mengalami kesulitan mengakses pinjaman bank dan modal investasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini banyak ditemui di pasar negara berkembang," kata Lagarde, dalam Joint IMF-Bank Indonesia Conference bertema Futures of Asia's Finance: Financing for Development 2015, di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, inklusi keuangan tidak hanya soal produk atau peraturan. Namun, bisa secara langsung meningkatkan mata pencaharian dan mengurangi kemiskinan. Ini adalah penyediaan layanan dan penciptaan kesempatan di mana ada ketimpangan-ketimpangan pendapatan dan jenis kelamin, pendidikan, dan kesehatan.

Lagarde menjelaskan, rendahnya tingkat inklusi keuangan di banyak negara merupakan hambatan bagi kesuksesan Asia. "Ada pengecualian, Korea telah mencapai hampir 100 persen akses ke perbankan bagi penduduk dewasa," katanya.

Pada konferensi ini, kata Lagarde, dirinya akan membahas beberapa penelitian pada pendalaman keuangan dan inklusi.

Dalam penelitian yang telah dilakukan menunjukkan, akses yang lebih besar ke layanan keuangan dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, dan dapat berperan dalam memajukan stabilitas sektor keuangan.

"Meningkatkan akses perempuan ke layanan keuangan memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang luar biasa. Hal ini ditunjukkan untuk merangsang pertumbuhan," terang dia.

Selain itu, lanjut dia, perempuan lebih banyak memiliki peran kepemimpinan di bidang keuangan dan juga dapat mendukung stabilitas keuangan.

"Islamic Finance memiliki potensi untuk memperluas akses keuangan untuk proyek-proyek jangka panjang. Saya sangat terkesan dengan inisiatif inklusi yang kita lihat di seluruh Asia, misalnya komitmen pemerintah terkait financial inclusion, dan program nasional India untuk memperluas akses ke rekening bank dengan kartu identifikasi biometrik," pungkasnya.

(drk/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads