Sementara tingkat inklusi atau akses keuangan mencapai 59,7% di 2013. Ini akan diperbarui di tahun 2016 dan ditargetkan tingkat literasi dan inklusi keuangan bisa naik 2% setiap tahun.
"Saving kita juga rendah hanya 30%, paling rendah di ASEAN, kompetitif kita dengan negara lain kalah, makanya kalau ada kebutuhan, kita masih bergantung pada asing," ujar Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kusumaningtuti Soetiono saat ditemui di Perbanas Institute, Jakarta, Kamis (3/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar 63% saham kita dimiliki asing, SBN 37% dimiliki asing, when asing sell, domestik sell, when asing buy, domestik buy, sangat berpengaruh," ucap dia.
Apalagi, lanjut Titu, jumlah investor di pasar modal masih sangat minim hanya 400-500 ribu investor, lebih rendah dari Filipina 558 ribu investor, Thailand 1 juta investor, dan Malaysia 4,4 juta investor.
"Investor kita nggak pernah tumbuh. Statis di angka sekitar 480-500 saja," sebutnya.
Di sektor asuransi juga belum banyak perkembangan. Total aset industri asuransi hanya Rp 1,6 triliun.
"Ada 142 perusahaan asuransi, 270 multifinance company, 240 dana pensiun. Sementara aset total asuransi hanya Rp 1,6 triliun, jadi artinya masih kecil dibandingkan perbankan, pasar modal, dan IKNB," jelas dia.
Meski demikian, Titu merasa masih optimistis jika sektor keuangan Indonesia akan mampu menghadapi pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di akhir tahun ini atau awal tahun depan, dan di 2020 untuk sektor perbankan.
"Perbankan selalu dalam proses. Ada yang namanya ABIF. Tetap sudah siap, khusus perbankan kesepakatan 2020, masih ada waktu. Sektor keuangan secara keseluruhan Cukup siap," katanya.
Untuk itu, Titu mengatakan, perlu dilakukan berbagai upaya financial inclusion agar akses keuangan terhadap masyarakat Indonesia tersebar merata melalui laku pandai, program Jaring, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), kurikulum SD, SMP, SMA, program Training on Trainer (ToT), pasar keuangan rakyat, dan gerakan Indonesia cinta pasar modal.
"Kita butuh sentimen positif, jangan sampai sentimen negatif membuat orang wait and see tidak bergerak. Ini ada potensi, tantangan, kita garap yang betul-betul visible menyentuh orang banyak dan sustainable jangka panjang," imbuh Titu.
(drk/ang)











































