Tak Hanya RI, Banyak Negara Was-was Menanti Rapat The Fed

Tak Hanya RI, Banyak Negara Was-was Menanti Rapat The Fed

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2015 17:45 WIB
Tak Hanya RI, Banyak Negara Was-was Menanti Rapat The Fed
Jakarta - Pidato dari Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, Janet Yellen, jadi sesuatu yang sangat ditunggu. Tak cuma bagi para investor yang ada di Indonesia, tapi juga di banyak negara lainnya. Karena bila bunga naik, dolar AS akan semakin perkasa terhadap hampir semua mata uang.

Demikian diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Fauzi Ichsan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/9/2015).

"Ini adalah kekahwatiran pelaku pasar. Bukan sesuatu spesifik indonesia mengkhawatirkan, tapi banyak negara yang mengkhawatirkan propek kenaikan suku bunga AS. Kalau saya melihat kenaikan itu ditunda itu semakin besar," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akan tetapi Fauzi menilai rencana tersebut akan tertunda hinga awal tahun. Apalagi melihat data perekonomian AS yang dilansir beberapa waktu lalu. Seperti dari sisi inflasi, pengangguran, dan ekspor yang tertekan akibat dolar AS yang terlalu menguat.

"Alasannya karena US dolar sudah menguat begitu tajam sehingga importir inflation juga tertekan, lalu juga dengan anjloknya harga komoditas terutama energi, inflasi di AS juga tertekan dan unemployment di AS walaupun 5% tapi under unemployment-nya itu makin besar. Dengan penguatan dolar, ekspor Amerika juga terpuruk," papar Fauzi

Di samping itu, melihat kebijakan bank sentral di beberapa negara seperti Bank Sentral Eropa, Jepang dan China yang justru menurunkan suku bunga. Artinya kebijakan moneter yang ditempuh adalah pelonggaran. Berbeda dengan AS yang nantinya akan dianggap pengetatan

"Belum waktunya bagi bank sentral AS untuk menaikan suku bunga sekarang. Sementara kalau melihat bank sentral global lain, seperti ECB, Jepang, Tiongkok mereka semua melakukan kebijakan moneter yang ekstra longgar. Bukan hanya memangkas suku bunga ke level terendah sepanjang sejarah, tapi juga melakukan quantitative easing di Eropa dan Jepang. Jadi secara relatif, bank sentral AS tanpa melakukan apa-apa, sementara bank sentral lain melakukan pelonggaran, berarti secara relatif bank sentral AS melakukan pengetatan moneter, walaupun tanpa menaikan suku bunga," terangnya.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads