Demikian diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Fauzi Ichsan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
"Ini adalah kekahwatiran pelaku pasar. Bukan sesuatu spesifik indonesia mengkhawatirkan, tapi banyak negara yang mengkhawatirkan propek kenaikan suku bunga AS. Kalau saya melihat kenaikan itu ditunda itu semakin besar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alasannya karena US dolar sudah menguat begitu tajam sehingga importir inflation juga tertekan, lalu juga dengan anjloknya harga komoditas terutama energi, inflasi di AS juga tertekan dan unemployment di AS walaupun 5% tapi under unemployment-nya itu makin besar. Dengan penguatan dolar, ekspor Amerika juga terpuruk," papar Fauzi
Di samping itu, melihat kebijakan bank sentral di beberapa negara seperti Bank Sentral Eropa, Jepang dan China yang justru menurunkan suku bunga. Artinya kebijakan moneter yang ditempuh adalah pelonggaran. Berbeda dengan AS yang nantinya akan dianggap pengetatan
"Belum waktunya bagi bank sentral AS untuk menaikan suku bunga sekarang. Sementara kalau melihat bank sentral global lain, seperti ECB, Jepang, Tiongkok mereka semua melakukan kebijakan moneter yang ekstra longgar. Bukan hanya memangkas suku bunga ke level terendah sepanjang sejarah, tapi juga melakukan quantitative easing di Eropa dan Jepang. Jadi secara relatif, bank sentral AS tanpa melakukan apa-apa, sementara bank sentral lain melakukan pelonggaran, berarti secara relatif bank sentral AS melakukan pengetatan moneter, walaupun tanpa menaikan suku bunga," terangnya.
(mkl/ang)











































